AU/Alternate Universe, Chaptered, Drama, EXO Fanfiction, Family, Fantasy, Hurt/Comfort, PG-13, R, Romance, Sad

[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 17

elepen22atex1xxyouuu

AYUSHAFIRAA Proudly Presents

.

`ELEVEN ELEVEN`

.

Sequel of

.

`BATHROOM`

.

| starring Byun Baekhyun, You as Byun Yena, Oh Sehun, Bae Irene |

| supported by Park Chanyeol, Park Seul as Yoon Bitna |

| au, complicated, drama, fantasy, romance |

| pg-17 | | chaptered (under 2k words for every chapter) |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


BATHROOM : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | [Protected] Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Final Chapter (1) | Final Chapter (2)

ELEVEN ELEVEN : Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Teaser 401020304 | 0506070809 | 10 | 11 | 1213 | 14 | 15 | 16[NOW] 17


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[ 17 ― Gadis Bodoh ]

.

.

.

 

Rasanya seperti mimpi. Bagi seorang Bae Irene, tiap detik yang ia lewati sejak Oh Sehun melamarnya kemarin masih terasa seperti sebuah mimpi; mimpi yang mana ia tak ingin terbangun darinya, mimpi indah berkepanjangan yang takkan pernah ingin ia akhiri. Sehun melamarnya. Sehun ingin bertanggung jawab pada cinta yang telah mereka rajut bersama selama ini. Sehun mencintainya.

Gadis pirang itu terus tersenyum layaknya orang kehilangan kewarasan sambil berguling-guling di atas kasur, membayangkan bahwasanya langit-langit yang ia tatap dan menaunginya dari terik matahari saat ini adalah wajah tampan sang kekasih. Hal itu terus berlanjut sampai akhirnya sebuah panggilan dari nomor tak dikenal masuk ke nomor ponsel pribadinya, menginterupsi kegiatan tak berguna yang telah ia lakukan selama berjam-jam lamanya itu.

“Halo?”

Kening gadis itu mengkerut seiring tak didapatinya suara siapapun dari seberang line telepon sana bahkan setelah beberapa detik berlalu.

“Halo? Ini siapa?”

Aku suka mendengar suaramu,” ucap seorang lelaki di seberang sana. Suara yang terdengar cukup familiar di telinga Irene, namun Irene belum begitu mampu untuk menebak siapa orang dibalik suara khas tersebut.

“Ini siapa?” tanya Irene, lagi.

Seseorang yang selalu ada di sisimu tanpa kau sadari,

Seseorang yang mungkin belum melekat kuat dalam ingatanmu,

Hati Irene mulai diliputi rasa was-was. Senyuman yang sebelumnya terasa sulit untuk dihilangkan, kini justru lenyap dalam sekejap.

Aku Baekhyun, Nuna.

“Baekhyun?” manik Irene melebar, terkejut, namun hatinya perlahan merasa sedikit lega mengetahui seseorang yang meneleponnya bukanlah orang jahat. “Aish! Kau ini benar-benar membuatku hampir mati ketakutan, tahu?!”

“Bagaimana kau bisa tahu nomor ponselku?” tanya Irene, penasaran.

Kalau warna celana dalam yang paling sering kau pakai saja aku tahu, kenapa tidak untuk nomor ponselmu?

“Hei! Kau benar-benar membuatku merinding! Berhentilah bersikap seperti kau adalah seorang stalker sungguhan!”

Teruslah bicara, Nuna. Aku sangat menyukai suaramu. Aku tak ingin kau menutupnya,” pinta Baekhyun dengan suara bergetar, napasnya terdengar begitu berat seperti orang yang menahan rasa sesak di dada.

“Kau baru saja meminta seorang model kelas Asia untuk berbicara panjang lebar, memangnya kau berani membayar berapa untuk semua itu?” tanya Irene, sedikit bergurau.

Sebanyak apapun akan kuberikan. Bahkan kalau kau memintaku untuk membunuh siapapun, aku akan melakukannya untukmu dengan senang hati,” jawab baekhyun bernada serius, yang lagi-lagi berhasil membuat bulu kuduk Irene berdiri.

“Aish, kata-katamu tenyata menyeramkan juga.” Irene membenarkan posisinya, duduk bersila di atas kasur sebelum akhirnya melanjutkan, “Biasanya lelaki lebih sering mengatakan kalau mereka rela mati demi diriku, mereka akan bilang kalaupun aku menyuruh mereka untuk bunuh diri mereka akan melakukannya dengan senang hati. Tapi rupanya, kau sedikit berbeda,” tutur Irene, terkekeh pelan.

Kenapa juga aku harus mati? Kalau aku mati, aku tidak akan bisa memilikimu.

Mendengar itu, Irene justru tersipu. Lelaki yang saat ini masih terhubung dengannya via telepon sepertinya memang memiliki kemampuan yang tak main-main dalam meluluhkan hati wanita.

Di lain tempat, tepatnya di ruangan rahasia rumah besar keluarga Byun, Baekhyun tampak terduduk di sudut, seorang diri. Panggilannya masih terhubung dengan nomor kontak Joohyun, kakak perempuannya yang sekarang bernama Bae Irene.

Mendengar suara Irene via telepon lantas mengingatkan Baekhyun akan panggilan terakhir sang kakak yang masuk ke ponselnya satu jam sebelum peristiwa kecelakaan itu terjadi. Itulah alasan dibalik mengapa tadi ia mengatakan pada Irene untuk tidak menutup telepon. Ia terlalu takut, kalau Byun Joohyun akan meninggalkannya lagi.

.

.

.

[Kilas balik, Tahun 2006]

Ponsel Baekhyun berdering cukup keras sore itu, membuatnya harus terpaksa bangkit dari posisi tidur nyamannya hanya untuk sejenak menerima panggilan yang ternyata datang dari nomor kontak seorang Byun Joohyun.

“Yak! Byun Baekhyun! kenapa kau lama sekali mengangkat teleponku?!”

Remaja belia itu otomatis menjauhkan ponselnya dari telinga, suara sang kakak yang terlalu menggelegar bisa saja membuatnya menjadi tuli seketika. Ia menghela napas kasar, sebelum akhirnya menimpal kesal, “Masih untung teleponmu kuangkat! Ada apa?! Kau sudah selesai les eoh?!”

“Itu kau tahu! Apa Eomma dan Appa akan menjemputku?”

“Tentu saja, Byun Joohyun! Mana mungkin mereka membiarkanmu pulang sendirian,” ucap Baekhyun sewot.

Memang, sebagai anak perempuan, orang tua mereka lebih senang memanjakan Joohyun ketimbang Baekhyun. Meski terkadang merasa iri, Baekhyun mengerti, Joohyun memang terlalu berharga untuk diabaikan.

“Yak! Kau tertawa di sana?!” tanya Baekhyun dengan nada emosi setelah mendengar Joohyun terkekeh pelan.

“Sopan sedikit, Bodoh! Awas saja, takkan kubiarkan kau lolos dengan mudahnya hari ini, Byun Baekhyun!”

Sayangnya, meski Baekhyun menunggu Joohyun untuk menangkapnya saat pulang, Joohyun tak pernah membuka pintu rumah mereka lagi. Kepulangan Joohyun dan kedua orang tuanya sore itu harus tertunda hingga beberapa detektif mengetuk pintu rumahnya hanya untuk mengabarkan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.

“Keluargamu mengalami kecelakaan, mobil yang mereka tumpangi bertabrakan dengan sebuah truk pengangkut air. Ayah dan ibumu dalam kondisi kritis di rumah sakit karena mengalami luka-luka yang cukup parah. Sementara saudarimu, Byun Joohyun, ditemukan meninggal dunia namun kemudian jasadnya menghilang entah ke mana. Tapi tenanglah, kami akan segera mencari dan menemukannya untukmu.”

“Apa?”

Detik itu juga, jiwa Baekhyun terguncang. Seluruh dunia Baekhyun luluh lantak, telah hancur, dan tak bisa dipijak lagi. Remaja lelaki itu mau tak mau harus menyaksikan wajah pucat kedua orang tuanya yang telah terbujur kaku di kamar mayat rumah sakit seorang diri. Hari itu, menjadi hari ulang tahun yang paling ia benci dalam hidupnya, sampai kapanpun.

.

.

.

Nuna…” panggil Baekhyun lirih.

“Hm?”

Baekhyun terdiam untuk sesaat, berpikir terlebih dahulu sebelum benar-benar melontarkan ucapan yang ia rasa sudah ada di ujung lidahnya pada gadis yang masih menantinya bicara di seberang line telepon sana.

“Aku mencintaimu… aku tidak mau kehilanganmu… tak bisakah kau menikah denganku saja?”

Hening cukup lama. Baekhyun hanya bisa menangkap suara tarikan napas Irene yang terdengar berat. Selama keheningan itu berlangsung, indera pendengaran lelaki itu menangkap suara lain yang berasal dari televisi di luar ruangan rahasianya.

‘Hujan lebat disertai petir akan turun di sekitaran kota Seoul nanti malam.’

♥♥♥

Hingga malam menjelang, sosok yang Yena tunggu-tunggu di taman kota itu tak kunjung datang. Yena yang tak mengenakan pakaian hangat perlahan tapi pasti tak bisa merasakan keberadaan tangan dan kakinya. Gadis itu menggigil di bawah langit gelap berawan dan suara petir yang terus bergemuruh.

Jauh dari dalam sebuah mobil, seorang lelaki tampan tampak memandangi Yena dengan perasaan berkecamuk. Setengah hatinya ingin sekali mempertahankan ego untuk membiarkan gadis itu tetap menunggu begitu saja, namun, setengah hatinya lagi seolah ingin membawa langkah kakinya berlari, menghampiri dan memberi Yena sebuah pelukan penghangat, berkata maaf karena terlambat menemuinya.

“Dasar, gadis bodoh. Bukankah sudah kubilang kalau aku tetap tidak akan datang?”

Sehun berdecih ria, kembali mengingat betapa semangatnya gadis itu kala memilih nama yang cocok untuk nama couple mereka. Dengan mudah, Yena menghancurkan harapan besar Sehun padanya lewat sebuah kalimat yang menyesakkan dada.

“Maafkan Yena, Ahjussi. Yena akan tetap memilih Baekhyun.”

Hujan pun langsung turun begitu deras. Sehun yang masih merasa sangat terluka kemudian mencoba menyingkirkan egonya dan keluar dari mobil dengan membawa sebuah payung hitam yang mampu melindungi dua orang sekaligus.

Baru saja beberapa langkah, Sehun enggan mengambil langkah lebih jauh lagi. Ia membiarkan tubuhnya terbasahi air hujan begitu saja tanpa membuka payung yang sedaritadi ia genggam kuat-kuat.

Awalnya Sehun berpikir, aura ketampanan tak tertahankan yang ia miliki akan mampu menarik hati Yena untuk berlabuh padanya. Namun ternyata, ia salah. Ada seseorang lain yang lebih menarik perhatian Yena ketimbang dirinya; seseorang lain yang gadis itu anggap sebagai ayahnya sejak awal, seseorang lain yang mungkin lebih berarti dibandingkan apapun di dunia.

Dan seseorang lain itu, kini tengah berdiri tepat di hadapan Yena sambil menggenggam erat gagang payung untuk melindungi sang gadis dari dinginnya air yang sedang berlomba-lomba turun dari langit malam itu. Seseorang lain itu bergerak lebih cepat ketimbang Oh Sehun. Kesimpulannya, Sehun selalu kalah dari lelaki itu, dari segi apapun.

Ahjussi!”

Senyum Yena memudar. Lelaki yang saat ini berdiri di hadapannya dan melindunginya dari derasnya air hujan ternyata bukanlah lelaki yang sejak lama ia nanti.

“Maaf jika aku mengecewakanmu, tapi aku Baekhyun,” ucap si lelaki berambut cokelat, tersenyum paksa.

“Dari mana kau tahu aku berada di sini?” tanya Yena, mencoba menutupi raut kecewa yang secara jelas tergambar di wajahnya dengan berbasa-basi.

Baekhyun menggeleng. “Kau tidak perlu tahu.”

Lelaki itu lantas mengulurkan tangannya pada Yena, mengajak Yena untuk bangkit dari duduknya dan pergi dari taman itu sebelum hujan turun semakin deras lagi. Yena tak langsung menerima uluran tangan Baekhyun. Ingin hati, Yena tetap bertahan menunggu Sehun. Ia yakin Sehun akan mendatanginya jika ia mampu bersabar sedikit lebih lama.

Saat Yena beranjak, sopir taksi yang ia tumpangi untuk bisa sampai di taman itu datang bersama dua orang polisi patroli di sampingnya. Rupanya, ada satu masalah yang belum terselesaikan antara Yena dan sang sopir taksi; gadis cantik itu belum membayar biaya ongkos perjalanan karena mengaku lupa tak membawa uang sepeserpun. Dan memang seperti itulah kenyataannya. Sejak terlempar ke masa ini, Yena tak pernah memegang uang seperak pun. Hidupnya terus bergantung pada pemberian Baekhyun dan Sehun hingga ia lupa bahwasanya dua orang itu takkan selalu bisa berada di sampingnya setiap waktu.

“Kalau dia tetap tak bisa membayar, terpaksa saya harus membawanya ke kantor polisi,” ucap si sopir taksi, tegas.

“Aiii, Ahjussi! Yena kan sudah minta maaf!”

Yena bersembunyi di balik Baekhyun, tangannya yang gemetar memegangi ujung kaos yang dipakai lelaki itu. Kala Baekhyun mencoba menyelesaikan masalahnya, Yena yang berdiri di belakang Baekhyun lantas tak sengaja melihat sosok yang ia tunggu sedari tadi sedang berdiri dalam keadaan basah kuyup di bawah guyuran air hujan tak jauh dari tempat ia dan Baekhyun berdiri saat ini.

Melihat Yena yang menyadari kehadirannya, Sehun lalu balik kanan, mengambil langkah cepat untuk segera masuk ke dalam mobilnya sebelum Yena benar-benar berlari menghampirinya.

Ahjussi…”

Tangan Yena tertahan, kesempatan untuk langsung berlari mengejar Sehun harus tertunda karena tatapan Baekhyun yang menyasar tepat ke arahnya seolah meminta penjelasan lebih.

“Maaf, Baekhyun-ssi! Aku harus mengejar seseorang dulu untuk saat ini!”

Begitu saja, Yena meninggalkan Baekhyun yang tengah berusaha menyelesaikan masalahnya demi menemui Sehun yang bahkan seperti benar-benar tak ingin menemuinya lagi.

AHJUSSI! AHJUSSI, TUNGGU!” teriak Yena. Ia berlari menembus derasnya hujan, tanpa memedulikan apapun lagi. Kesempatan untuk bisa bertemu Sehun setelah ini mungkin saja tak akan datang dua kali, takkan semudah kesempatan yang dulu pernah ia sia-siakan.

Sehun yang sudah siap meninggalkan taman itu lalu dikejutkan dengan aksi nekat Yena yang berusaha menahan laju mobilnya dengan berdiri tepat di depan mobilnya meski hujan terus turun tanpa henti.

Saat mobil Sehun berhenti, Yena tentu tak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Gadis itu menggedor kaca mobil Sehun, berharap si lelaki mau berpaling dan melihatnya memohon.

Ahjussi! Yena mohon, Ahjussi! Ada yang harus Yena katakan pada Ahjussi! Yena mohon, Ahjussi! Tolong dengarkan Yena sekali ini saja!” pinta Yena, sedikit berteriak, mengingat suara hujan yang turun begitu deras bisa saja mengalahkan vokalnya.

Sehun membuka sedikit jendela mobil, sebelum akhirnya berkata dengan nada dingin, “Masuklah, sebelum aku berubah pikiran.”

♥♥♥

Yena berulangkali tampak mengusap-usap kedua tangannya, sesekali memberikan tiupan hangat demi menyetabilkan suhu tubuhnya yang dirasa hampir membeku akibat guyuran hujan serta AC yang begitu dingin di dalam kafe.

Sehun akhirnya kembali, dari antrean para pemesan minuman hangat. Secangkir cokelat dan kopi panas kemudian lelaki itu bawa ke meja yang memaksanya untuk duduk berhadapan dengan si gadis Byun. Sayangnya, tatapan yang Sehun berikan pada gadis itu tak sehangat kedua minuman yang ia beli.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan? Cepatlah, waktuku tak banyak,” ucap Sehun, bersikap seolah-olah ia adalah orang paling sibuk di dunia.

Setelah menyeruput sedikit cokelat panasnya, Yena mencoba angkat bicara meski dengan keadaan gigi yang terus bergertak tak terkontrol, “Ma-maafkan Yena, Ahjussi.”

“Aku meluangkan waktuku bukan untuk mendengar maafmu.”

Mendengar kalimat itu langsung dari mulut Sehun nyatanya berhasil membuat Yena begitu terluka dan hampir menitikkan airmata.

“Yena mohon, Ahjussi. Jangan nikahi Irene. Irene itu Eomma Yena dan Appa Yena adalah Baekhyun. Kalau Ahjussi menikahi Eomma, Yena akan lahir dari rahim siapa?” jelas Yena kini dengan airmata yang tak lagi tertahankan.

“Itu urusanmu dengan takdirmu, bukan denganku,” jawab Sehun. “Jangan pernah mengiba lagi di hadapanku, karena aku membenci diriku sendiri yang mengasihanimu.”

Ucapan Sehun seketika mampu membuat Yena terdiam seribu bahasa. Tak ada lagi kata yang mampu keluar dari mulutnya untuk membalas semua perkataan kejam nan berduri itu.

Oh Sehun telah berubah, menjadi makhluk berhati dingin dengan lidah bak pisau belati yang siap melukai siapa saja, termasuk seorang Byun Yena sekalipun.

wp-1512900351254.jpg

Watch my action also on wattpad.

Iklan

12 tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 17”

  1. Thor, knp Sehun jadi dingin begitu…aku rindu momen Se-Na yang cute ngegemesin gituu…
    Maaf Thor aku terlalu menghayati cerita ini makanya aku jadi baperan begini😂
    D tunggu next chapter ya Thor, aku seneng banget pas ngetik d google ttg fanfic ini dan langsung muncul new chapternya … Oh God akhirnya update juga

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s