Fluff, Monsta X Fanfiction, Oneshot, PG-13, Romance, T

[Monsta X Fanfiction] LEMME SHOW YOU

PicsArt_05-30-08.34.23

`LEMME SHOW YOU`

2018 © AYUSHAFIRAA Art & Storyline | Shownu x OC’s Irene Lim | Fluff, Romance | PG-15 | 2k words

○○○

[This is will probably OOC. Standard disclaimer applied. No profit taken from this fiction]

[Based from Girl’s Day – Show You]

I wish you could protect me at night and be by my side when I wake up in the morning.

⏪▶⏩

Hari ini masih berjalan sama seperti hari-hari Irene sebelum-sebelumnya. Netra kecokelatan alami yang ia miliki tampak sangat cocok dengan surai tipis sepunggung yang baru saja ia warnai di salon. Gadis muda itu melangkahkan kaki jenjangnya ke luar salon sambil menempelkan sebuah benda canggih berwujud ponsel keluaran terbaru ke telinga kirinya, yang akan menghubungkannya pada seseorang di benua amerika sana.

The number you are calling is not active

Ia melenguh kesal. Sudah kesekian kalinya dalam setengah hari ini, ia tak bisa menghubungi orang itu. Ya, orang itu, lelaki yang telah mengikatnya dengan sebuah cincin pertunangan tahun lalu. Memang sih, perbedaan waktu 11 jam sangat menyulitkan mereka untuk tetap saling menjaga komunikasi.

Bayangkan saja. Saat Irene terlelap dalam tidur, tunangannya di sana mungkin baru saja memulai aktivitas. Dan begitupun sebaliknya, saat gadis bermarga Lim itu sedang sibuk-sibuknya menjalani hari yang cerah, tunangannya mungkin sudah larut dalam mimpi indahnya sendiri.

Sekarang, arloji si Gadis Lim baru menunjukkan pukul dua belas. Itu berarti, sudah pukul sebelas malam di Amerika.

Gadis berpipi tembam itu mengumpat dalam hati. Untuk apa pula sih kekasihnya itu harus jauh-jauh bekerja di New York?

Kalaupun kekasihnya mencari gaji yang lebih tinggi di sana, apa artinya kalau itu semua hanya membuat jarak di antara mereka semakin melebar? Sudah mau menikah, hubungan malah merenggang.

Irene menggeleng cepat, mengenyahkan semua kemungkinan buruk yang melintas dalam benaknya.

“Son Hyunwoo,” gumam Irene, geregetan. Dimasukannya kembali benda canggih itu ke dalam tas kecilnya dengan sembarangan. “Awas saja kalau sampai kau melupakan hari esok,” lanjutnya, bermonolog kesal sepanjang jalan.

⏪▶⏩

Di bawah selimut, gadis itu masih enggan menutup mata meski hari telah begitu larut. Perhatiannya tak pernah teralihkan dari layar ponsel berukuran 6 inchi dalam genggamannya yang telah ia tatap lebih dari 2 jam tanpa melakukan aktivitas apapun. Untung saja selama 2 jam itu, Irene tidak lupa caranya berkedip.

Sebenarnya, ia hanya menunggu minimal sebuah pesan masuk ke nomornya dari kontak Hyunwoosang tunangan. Tapi yang ditunggu-tunggu sepertinya sedang lupa kalau dia punya seorang wanita yang tinggal di beda benua sedang dilanda risau hanya karena menunggu sebuah kabar.

Ting!

“Ah!” hampir saja Irene terbang ke langit ke-7 saking bahagianya mendapat notifikasi pesan masuk, tapi kenyataan membuatnya lebih dulu terjatuh dan merasakan sakit.

Sialan. Pesan yang diterimanya kali ini hanyalah pesan pemberitahuan dari pihak Bank bahwa kartu kreditnya telah mencapai batas maksimum penggunaan.

Ya, dari Bank. Bukan dari lelaki bernama Son Hyunwoo yang sedari tadi ia tunggu kabar beritanya.

Kurang dari 20 menit lagi, hari akan segera berganti tanggal. Setelah hari berganti nanti, Irene akan bertambah tua satu tahun dari umurnya saat ini. Untuk seorang gadis yang telah menjadi tunangan seorang lelaki, usia 25 tahun masih tergolong sangat muda, bukan?

Pukul dua belas lewat satu detik…

“Selamat ulang tahun, Irene Lim,” ucap Irene pada dirinya sendiri. “Semoga kau sehat selalu dan senantiasa diberikan kebahagiaan. Selain itu, semoga saja kau bisa semakin lebih bersabar menghadapi kekasihmu yang tidak seperti kekasihmu itu, haha, hahaha,” lanjutnya berdoa, namun diakhiri tawa paksa yang terdengar begitu miris.

Sampai pukul satu pagi lewat seperempat, gadis itu tak kunjung mendapat ucapan selamat atau apapun dari seorang Son Hyunwoo. Pada akhirnya, ia memilih mengalah pada rasa kantuk dan membiarkan ponselnya tergeletak asal di atas nakas begitu saja dalam mode sunyi.

⏪▶⏩

“Apa tidurmu nyenyak?”

Suara itu seketika saja membuat jantung Irene yang baru terbangun dari tidur hampir loncat dari tempatnya. Sekonyong-konyong, sosok pemuda berkulit tan itu keluar dari kamar mandi di dalam kamar Irene dengan hanya mengenakan baju handuk hingga rasanya Irene akan mati muda detik itu juga.

“TIDAK BISAKAH KAU TIDAK MENGEJUTKANKU SEKALI SAJA, SON HYUNWOO?!” teriak Irene nyaring, penuh emosi, seraya melayangkan sebuah bantal ke arah prianya tersebut.

Hyunwoo terkekeh, sedang tangannya tetap aktif mengusap-usap rambut basah berwarna cokelat keabu-abuannya dengan handuk kecil.

“Kenapa tidak mengabariku dulu kalau mau datang?”

Lelaki itu menghadap cermin dan mulai menyisir rambut sambil berkata tanpa menatap gadisnya yang masih berbaring malas di tempat tidur, “Bagaimana aku bisa mengabarimu kalau panggilan dariku saja tidak kau angkat?”

Irene buru-buru bangkit dan menyambar ponselnya yang tergeletak di atas nakas.

Ups! 49 panggilan tidak terjawab, 72 pesan masuk. Semuanya dari kontak bernama ‘Hyunwoo-ku sayang’.

“Maaf! Habisnya kau menyebalkan sekali tidak memberi kabar seharian,” keluh Irene. “Jadinya, aku malas mengaktifkan mode dering.”

“Aku lapar. Kau tidak mau cepat-cepat mandi dan menemaniku sarapan di luar?”

Irene mendengus sebal. Hyunwoo bahkan mengabaikan topik yang baru ia bahas demi menyampaikan kalau cacing-cacing dalam perutnya telah keroncongan meminta asupan makanan. Saat mode kenyang saja lelaki itu sudah menyebalkan, apalagi saat tengah kelaparan? Bisa-bisa ia merongrong Irene seharian penuh.

“Aku akan mandi setelah kau memelukku,” ucap Irene, manja.

Hyunwoo menoleh sebentar, sebelum akhirnya kembali menatap cermin dan merapikan rambutnya.

“Aku akan memelukmu setelah kau mandi.”

“ISH! ISH! ISH! DASAR MAKHLUK MENYEBALKAN! KENAPA JUGA KAU BISA BERAKHIR MENJADI TUNANGANKU?!” Irene melangkah ke kamar mandi sambil menghentak-hentakkan kaki, terus mengoceh kesal. Sementara itu, si pria yang disebutnya ‘makhluk menyebalkan’ hanya tergelak dalam tawa.

Tepat sebelum Irene masuk ke kamar mandi, Hyunwoo sempat sengaja menimpali untuk membuat Irene semakin kesal, “Siapa suruh kau jatuh cinta dan tergila-gila padaku?”

Dan suasana pagi itu berakhir dengan si gadis Lim yang membanting pintu kamar mandi dan Hyunwoo yang tak bisa berhenti menertawakan hal itu.

⏪▶⏩

Gadis bersurai cokelat sedikit bergelombang itu hampir saja lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Sebab, hingga detik ke-35 di pukul tujuh lewat tiga puluh malam ini, Hyunwooyang sedang terduduk di hadapannya sambil menunggu pesanan makan malam mereka datangbelum juga mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.

Jujur saja, Irene memang bahagia mengetahui Hyunwoo telah sengaja mengambil cuti demi menghabiskan waktu bersamanya seharian ini. Tapi, jika ia tetap mengharapkan Hyunwoo untuk memberinya ucapan selamat disertai kejutan-kejutan kecil, tidak ada salahnya, bukan?

Oppa, apa kau melupakan sesuatu?” tanya Irene, kembali membuka percakapan.

Hyunwoo mengerutkan kening, berusaha mengingat apa yang mungkin ia lupakan. Setelahnya, ia menggeleng pada Irene.

Selang kemudian, beberapa pemain musik klasik datang menghampiri meja keduanya bersamaan dengan datangnya makanan yang mereka pesan. Alunan melodi merdu nan romantis lantas menambah kehangatan suasana makan malam mereka.

“Selamat ulang tahun,” ucap Hyunwoo di tengah-tengah acara makan malam romantis tersebut. Sambil lanjut menyuap galbitang1 ke dalam mulutnya, lelaki itu menyodorkan sebuah kotak perhiasan beledu hitam pada sang kekasih.

Irene yang mendapat perlakuan istimewa tak biasa dari Hyunwoo sejenak kehilangan kata-kata. Makan malam romantis ditemani alunan musik klasik nan merdu, dan sebuah kado? Hei, apa Hyunwoo bisa mendengar suara batinnya tadi?

“Terima kasih.”

Tak hanya mendapat kado dari Hyunwoo, para pemain musik klasik itu pun ternyata telah mempersiapkan sebuket bunga mawar untuk Irene. Irene makin tersipu, tak habis pikir Hyunwoo bisa seromantis ini dalam sekejap.

“Apa kau sendiri yang berinisiatif menyiapkan semua ini?”

Si Gadis Lim masih larut dalam euforianya. Ulang tahunnya hari ini benar-benar seperti apa yang diinginkannya, bahkan lebih baik dari yang pernah ia bayangkan.

“Tidak juga,” jawab Hyunwoo, menghancurkan kebahagiaan yang baru sesaat Irene rasakan.

“Karena aku sudah memesan tempat di restoran ini sejak jauh-jauh hari, pihak restoran menawarkan special treatment terlebih saat mengetahui pelanggannya akan makan malam dengan seseorang yang istimewa di hari yang istimewa pula,” lanjut lelaki itu yang seketika mampu membuat Irene tersenyum cerah, tak jadi kecewa.

Walaupun kekasihnya bisa teramat sangat menyebalkan, Irene tak akan pernah lupa kalau Son Hyunwoo pasti akan selalu bisa membuatnya bahagia dengan caranya sendiri.

“Ya, terserah bagaimanapun cerita di balik itu, pokoknya terima kasih untuk semuanya.”

Gadis cantik itu bangkit dan mencondongkan tubuhnya ke hadapan Hyunwoo untuk mengecup bibir pria itu secepat kilat sampai-sampai si empunya bibir terkejut akan keagresifannya.

“Aku suka,” ujar Irene seraya tersenyum manis lengkap dengan mata yang membentuk bulan sabit.

“Ah, baguslah kalau begitu.” Hyunwoo mengangguk-anggukan kepalanya dengan ekspresi malu-malu. Canggung? Ah, tidak juga. Toh, mereka bahkan sudah pernah melakukan yang lebih dari sekedar kecupan kilat. Lalu kenapa?

“Apa kau juga menyiapkan kue tar dan lilin angka?!” tanya Irene, antusias.

Hyunwoo lagi-lagi menggeleng polos.

“Yah, payah!” celetuk Irene kemudian.

Netra sipit gadis itu sengaja melotot, menatap prianya penuh harap. “Setelah ini kita beli, ya? Okay? Okay? Okay!”

⏪▶⏩

“Apa aku sudah sejarang itu melihatmu tersenyum begitu manis?” gumam Hyunwoo. Sementara itu, gadisnya tampak tak terganggu sama sekali dengan gumaman pelannya tersebut.

Sang gadis kini tengah terlelap di atas meja sebuah warung soju2 pinggir jalan. Setelah membeli 2 bolu kecil, menaruh lilin berangka 2 dan 5 di atasnya dan meniupnya bersama-sama dengan semangat di tempat tersebut, Irene tak kuasa menahan rasa mabuk meski baru menenggak 2 cangkir soju.

Irene yang terlelap membiarkan Hyunwoo yang terjaga sendirian terus menatapnya sedari tadi. Terkadang, Hyunwoo merapikan surai lembut Irene jika sedikit saja menutupi wajah cantiknya. Alasannya jelas, Hyunwoo hanya tidak mau pemandangan indah yang sudah lama tak nampak di depan matanya itu terhalang oleh apapun, hehe.

“Ayo, kita pulang,” bisik Hyunwoo, lembut.

“Mmmh… eungh…” racau Irene tak jelas.

Si Lelaki Son tampak tertawa kecil. Pikirannya melayang membayangkan hal aneh-aneh yang mungkin sedang diimpikan sang kekasih tercinta.

“Sudah, sudah. Mendesahnya nanti di kamar saja, jangan di sini,” bisiknya lagi sambil sibuk menahan tawa.

Dengan sigap, Hyunwoo menggendong Irene di punggung lebarnya. Di sanalah tempat Irene biasa tertidur nyaman semasa mereka masih dalam tahap pendekatan, dahulu kala. Tak terasa, tali asmara yang mereka rajut ternyata sudah hampir terjalin selama 4 tahun lamanya. Selama itu pula, Hyunwoo rasa, ia tak pernah berhenti mencintai Irene barang sedetik. Merantau ke negeri Paman Sam selama 2 tahun terakhir seakan telah membuatnya kehilangan banyak momen kebersamaan dengan sang gadis terkasih. Ya, meskipun bisa 2 kali dalam sebulan Hyunwoo kembali ke tanah kelahirannya dan menghabiskan waktu berharganya bersama Irene, rasanya, itu tidak cukup.

Langit gelap malam itu masih senantiasa menaungi kedua insan tersebut. Untuk menghangatkan tubuh wanitanya, Hyunwoo bahkan rela melepas jaketnya. Adegan klise, namun jika Hyunwoo juga ingin melakukannya sesekali, tidak masalah, bukan?

Tanpa terlihat susah payah, Hyunwoo melangkah masuk ke kamar apartemen mereka masih dengan Irene yang sudah keenakan tidur di punggungnya.

“Selamat tidur, Sayang,” ucap Hyunwoo. Setelah membaringkan tubuh ramping Irene di ranjang, Hyunwoo memberi sebuah kecupan singkat namun hangat di kening gadis itu.

Hyunwoo merebahkan dirinya juga di atas kasur empuk yang sama. Otaknya sedang ia paksa untuk berpikir keras kala netranya hanya menjumpai langit-langit dalam keremangan. Sebelah tangannya ia jadikan bantalan, merenung akan masa depannya, sejenak tanpa suara.

Pagi menjelang sedang sinar mentari berlomba menerobos celah-celah gorden kamar sepasang insan titisan darah Adam dan Hawa tersebut. Son memeluk Lim dalam rengkuhan hangat di balik selimut. Gadis itu sebenarnya masih enggan untuk membuka mata, namun sayangnya, cahaya matahari yang menyilaukan seolah memaksanya untuk cepat-cepat terbangun dan menyadari momen langka ini.

Pandangan Irene tak lepas menatap wajah polos Son Hyunwoo. Menurut Irene, Hyunwoo adalah pria bertubuh kekar paling imut serta menyebalkan di dunia. Dan itu tak pernah berubah. Alasan itu pulalah yang membuatnya tak pernah ingin berpaling pada lelaki manapun. Sejak awal, Irene telah percaya bahwa dirinya memang dilahirkan hanya untuk Son Hyunwoo dan Son Hyunwoo hanya untuk dirinya.

“Oppa,” panggil Irene. Tangannya bergerak mengusap lembut pipi lelaki itu.

Hyunwoo bergumam, menyahut. Ia tampak semakin menggemaskan karena menimpali Irene dengan setengah nyawa yang belum terkumpul sempurna.

“Kau mau tahu apa yang aku harapkan dalam permohonanku tadi malam?”

“Apa itu?” tanya si lelaki dengan mata yang kembali tertutup saking tak kuasa menahan kantuk.

Irene tersenyum lebar.

“Aku berharap kau bisa menjagaku di malam hari dan berada di sampingku saat aku terbangun di pagi hari.”

“Sudah terwujud,” gumam Hyunwoo, semakin pelan. “Permohonan itu sudah terkabul, dan akan selalu terkabul mulai sekarang,” lanjutnya, meracau.

Gadis bersurai cokelat itu akhirnya kian mantap mempererat pelukannya pada si Lelaki Son. Tak peduli kata-kata tadi hanya sebuah racauan alam bawah sadar Hyunwoo semata atau memang ketulusan hati sang pria yang berjanji untuk selalu bersamanya, Irene sudah cukup bahagia. Sangat malah.

“Aku mencintaimu,” bisik Irene.

“Hmmm.. akm… jega…”

Irene terkekeh mendengar lirihan tak jelas Hyunwoo. Tak mau lagi mengganggu tidur Hyunwoo yang terlihat kelelahan, ia pun memutuskan untuk lanjut memejamkan mata setelah sebelumnya mencium bibir lelaki itu dalam beberapa sekon terakhir.

Kini, Irene tidak mau ragu lagi pada sosok Hyunwoo. Dengan Hyunwoo mencintainya apa adanya dan ia yang mencintai Hyunwoo juga karena hal yang sama, itu sudah cukup menjadi bukti bahwasanya ia perempuan paling beruntung di dunia; memiliki Hyunwoo dan seluruh rasa cintanya.

Fin.

1 Sup daging sapi yang telah direbus dengan tulang.

2 Minuman beralkohol yang biasanya terbuat dari beras, atau dengan bahan pengganti lain seperti kentang, gandum, dan lain-lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s