[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 20

elepen22atex1xxyouuu

AYUSHAFIRAA Proudly Presents

.

`ELEVEN ELEVEN`

.

Sequel of

.

`BATHROOM`

.

| starring Byun Baekhyun, You as Byun Yena, Oh Sehun, Bae Irene |

| supported by Park Chanyeol, Park Seul as Yoon Bitna |

| au, complicated, drama, fantasy, romance |

| pg-17 | | chaptered (under 2k words for every chapter) |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


BATHROOM : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | [Protected] Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Final Chapter (1) | Final Chapter (2)

ELEVEN ELEVEN : Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Teaser 401020304 | 0506070809 | 10 | 11 | 1213 | 14 | 15 | 1617 | 18 | 19[NOW] 20


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[ 20 ― Seseorang Dari Masa Depan ]

.

.

.

 

“Selamat pagi, Nona Yena,” sapa seorang dokter muda nan tampan yang tempo hari pernah memberikan perawatan pada Yena saat tertabrak oleh mobil Oh Sehun. “Bagaimana kabarmu hari ini? Sudah merasa baikan?”

“Dokter yang waktu itu pernah merawat Yena, ‘kan?” tanya Yena, memastikan saja.

Dokter muda itu mengangguk. Senyum di wajah tampannya terus merekah kala membantu Yena untuk duduk nyaman di atas ranjang sebelum akhirnya memeriksa kondisi gadis itu.

“Apa kau senang bisa bertemu lagi denganku?” tanya dokter itu disela-sela pemeriksaan.

‘Kim Jun Myeon’. Nama itulah yang bisa Yena baca dari bagian dada kanan jas putih yang dikenakan sang dokter.

Yena menggeleng. “Yena tidak senang.”

Dokter Kim mengerutkan keningnya, tak puas mendengar jawaban gadis di depannya. “Kenapa Nona Yena tidak senang?”

“Bagaimana Yena bisa senang bertemu dengan Dokter lagi di rumah sakit? Tandanya ‘kan Yena sering tidak sehat,” jelas gadis itu sambil mengerucutkan bibirnya, membuat Dokter Kim semakin gemas melihat tingkah gadis itu yang masih saja mempertahankan sikap kekanak-kanakannya yang khas sejak awal pertama.

“Nona Yena sehat-sehat saja kok, semua hasil tes menunjukkan kalau Nona Yena memang baik-baik saja,” balas sang dokter.

“Tapi… kenapa, ya, Yena selalu merasa ada yang tidak beres dengan jantung Yena?”

Yena menatap Dokter Kim dengan raut penuh kesedihan. Sorot matanya berubah sendu seperti mau menangis. “Rasa sakitnya luar biasa, Dokter. Saat pertama kali hal itu terjadi, Yena hanya mimisan. Tapi, saat kedua kalinya itu terjadi, Yena muntah darah sampai merasa hampir mati.”

“Jika hal itu terjadi untuk ketiga kali, mungkinkah Yena akan benar-benar mati?” tanya gadis itu selanjutnya. Setetes air mata lolos begitu saja, mengalir membasahi pipinya yang putih mulus.

Iba. Dokter Kim bisa merasakan kesedihan Yena saat menyaksikan sendiri tetes air mata gadis itu. Rasanya, menghapus air mata yang telah jatuh dengan satu ujung jari saja belum cukup menyudahi kesedihannya. Lelaki itu pun belum bisa mengerti, kenapa dengan segala keluhan yang ada, hasil tes kesehatan gadis cantik satu itu tetap saja tak menunjukkan masalah apapun?

Gadis cantik itu… siapa dia? ―Ah, maksudnya, apa gadis itu manusia biasa seperti dirinya? Ataukah ada sesuatu yang spesial dari gadis itu sehingga bisa membuatnya sedikit berbeda dari orang lain?

“Dia pernah bilang padaku kalau dia memang datang dari masa depan.”

Begitulah ucapan Oh Sehun yang masih diingat Kim Junmyeon sampai detik ini. Sebelumnya, ia tak pernah sebegitu penasaran terhadap kehidupan orang lain. Tapi, Yena berbeda. Kehadiran gadis itu mampu membuat pikirannya yang semula tertutup terhadap segala hal yang ia pikir ‘sangat tidak mungkin terjadi di dunia ini’ dulu, kini menjadi lebih terbuka.

“Nona Yena…” panggil Dokter Kim.

“Ya?”

“Apa kau benar-benar datang dari masa depan?”

♥♥♥

[Tahun 2035]

Pemuda bermarga Park itu lagi-lagi mengembuskan napas kasar. Dirinya kini tengah berpijak di atap gedung rumah sakit, sendirian, sebelum akhirnya langkah jenjang seorang gadis cantik bersurai cokelat bergelombang sepunggung mendekat ke arahnya.

Lelaki itu sempat menoleh, menyadari kehadiran sang gadis. Namun netranya kembali memusat ke depan, entah fokus melihat apa. Bisa juga ia tengah menatap langit jingga yang menemani mentari untuk kembali sembunyi ke peraduannya. Entahlah, hanya pria itu sendiri yang mengetahui lebih tepatnya.

“Aku jadi merasa bersalah,” ungkap si gadis, berusaha menarik atensi Park Chanyeol untuk berpaling ke arahnya.

“Maksudmu, kau baru merasa bersalah karena mengambil kesempatan debut Yena?” tanya Chanyeol pada Yoon Bitna, yang langsung dibalas oleh anggukan lemah gadis itu.

“Untuk apa merasa bersalah sekarang? Tidak ada gunanya juga,” lanjut si Pemuda Park, tertawa ketus.

Bitna yang merasa tersinggung akan tutur kata mantan kekasihnya itu lantas memberi tatapan tak percaya.

“Hei, Park Chanyeol! Kau ini kenapa, sih?! Kenapa sejak aku mau memulai debutku, kau begitu sentimen terhadapku?! Kau pikir, semuanya menjadi salahku jika Yena belum juga mendapat kesempatan yang sama setelah bertahun-tahun?!” Bitna menitikkan air mata, tak kuat berlama-lama menumpuk semua rasa sesaknya dalam dada.

“Jika kau benar-benar memikirkan Yena, kau bisa saja menolak kesempatan debut itu agar Yena tetap bisa mendapatkannya!” vokal Chanyeol ikut meninggi. Kaki panjang lelaki itu bahkan sempat-sempatnya menendang tong sampah di dekatnya sekuat tenaga untuk melampiaskan amarahnya yang dirasa sudah mencapai ubun-ubun.

“Yena! Yena! Yena! Selalu saja perasaan Yena yang kau pikirkan! Kau tidak pernah sekalipun memikirkan bagaimana perasaanku ‘kan, Park Chanyeol?!” akhirnya, ujung akar masalah itu terucap juga oleh lisan si Gadis Yoon. Jemarinya mengepal kuat, sedang dadanya tampak naik turun.

Gadis yang baru debut sebagai penyanyi solo itu meniup paksa poni yang menutupi keningnya, kesal. “Kau bilang kau masih mencintaiku, tapi, kenapa yang keluar dari mulutmu selalu saja tentang Byun Yena?! Apa kau mencintainya, huh?!”

“Aku melangkahkan kakiku kemari untuk mencari ketenangan, Bitna-ya. Tapi, yang kudapati sekarang bukannya ketenangan malah kau yang semakin memperumit jalan pikiranku!”

Tanpa sedikitpun menaruh perhatian pada Bitna yang menangis, lelaki bertelinga lebar itu rupanya lebih memilih angkat kaki dari sana tanpa mengindahkan lagi panggilan berupa teriakan melengking dari gadis satu itu.

Chanyeol mengayunkan tungkainya masuk ke ruang rawat Yena, di mana gadis itu ternyata masih senantiasa terlelap dalam tidur panjangnya seakan tak pernah ingin terbangun lagi. Sesaat setelah Chanyeol duduk di samping sebelah kiri ranjang Yena, ia menatap putri tidur itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa marah, frustrasi, rindu, semuanya bercampur menjadi satu.

“Sejak kecil, kita selalu bersama, Yena-ya. Bagaikan takdir, kita terus dipertemukan oleh jalan cerita yang hampir sama,” tutur Chanyeol. Ia pun lanjut bermonolog, “Ayahmu dan ayahku telah tiada saat itu, dilanjutkan dengan diriku yang kemudian hidup terlantar juga dirimu yang sama-sama ditelantarkan secara sengaja oleh nenekmu setelah ibumu meninggal. Kita terlalu sama dan sering bersama. Aneh rasanya melihatmu hanya terdiam seperti ini.”

Sementara si Pemuda Park lanjut bercerita sendiri, Yena tetap terbaring di atas ranjang masih dengan wajah cantiknya yang tampak pucat. Perban masih melekat di sekitar kepalanya, alat-alat medis nan canggih lainnya pun masih tetap terhubung ke setiap organ vital tubuhnya meski kondisinya tak mengalami perkembangan apapun sejak hari kecelakaan itu. Dengan hari ini, sudah lebih dari 2 minggu Yena terbaring di atas ranjang pesakitan itu, tanpa memunculkan tanda bahwa ia ingin kembali membuka matanya untuk hidup sekali lagi.

“Apa kau tidak merindukanku? Sejahat itukah dirimu, Byun Yena?”

.

.

.

[Kilas balik, Tahun 2031]

“Aku baru saja putus dengan Bitna, Yena-ya,” aku Chanyeol, lirih.

Tahun ini, Chanyeol resmi memulai debut sebagai seorang aktor. Ya, walaupun di awal debutnya ini, ia masih hanya mendapat peran-peran kecil dalam sebuah drama televisi atau film layar lebar.

Untuk mendapatkan sesuatu, tentu setiap orang harus rela mengorbankan sesuatu juga. Dan untuk debutnya kali ini, Chanyeol mau tak mau harus merelakan hubungan spesialnya dengan Yoon Bitna―sahabat sekaligus sesama trainee di agensi yang menaungi mereka―untuk berakhir detik itu juga. 

Chanyeol duduk di lantai ruang latihan menari dan bersandar pada tembok. Kehadirannya di sana rupanya baru saja mengganggu kegiatan rutin Byun Yena yang saat ini tampak bermandikan keringat setelah menghabiskan waktu seharian untuk latihan banyak koreografi.

Yena mematikan musik lalu fokus menghampiri Chanyeol yang terduduk begitu lesu.

“Lalu bagaimana respon Bitna?” tanya Yena saat itu.

“Dia bilang dia mengerti, tapi setelah aku meninggalkannya, kudengar dia terisak,” jawab lelaki itu. “Aku jadi merasa bersalah karena telah membuatnya menangis.”

Melihat Yena kebingungan mencari-cari handuk kecilnya, Chanyeol pun mengeluarkan sapu tangan miliknya dari saku celana.

“Kemarilah,” titah lelaki itu sembari menarik tangan Yena agar lebih mendekat padanya.

Tanpa perlu banyak berkata-kata lagi, ia mengelap keringat di wajah, leher, serta lengan gadis itu menggunakan sapu tangannya. Seketika saja, perhatiannya pada gadis itu membuat si gadis membeku tak berkutik tanpa ia sadari.

“Chanyeol-ah,” panggil si gadis bermanik cokelat.

Tatapan mereka lantas beradu, memacu detak bertempo cepat memompa aliran darah ke seluruh tubuh mereka hingga berdesir rasanya. Tatapan tersebut berlangsung cukup lama, hingga salah satunya memilih untuk mendaratkan sebuah ciuman lembut yang cukup singkat di bibir. Dialah Chanyeol, yang memilih mengecup ranum merah muda sahabatnya sendiri, tanpa permisi.

“Maafkan aku, Yena-ya,” sesal Chanyeol kemudian.

Gadis itu tampak memaksakan sedikit senyumnya, sebelum akhirnya menimpali,

“Tidak apa-apa.”

[Kilas balik selesai]

.

.

.

“Chanyeol-ah,” panggil seorang pria yang lebih tua darinya, mengakhiri bayangan masa-masa indah yang pernah ia lalui bersama Yena.

“Ya, Hyung?”

“Ayo, kembali bekerja. Jadwalmu dimulai lagi malam ini, kau tidak lupa, ‘kan?” pria yang berumur sedikit di atas Chanyeol itu memperlihatkan sebuah tablet yang penuh berisi catatan jadwal syuting si Aktor Park dalam genggamannya.

“Baiklah, Hyung. Tunggu sebentar,” ucap Chanyeol, sedang pria yang tak lain merupakan manajernya sejak debut itu hanya menunggu dengan sabar.

Jemari Chanyeol mengusap lembut surai hitam panjang Yena yang terurai. Ditatapnya kembali gadis cantik itu sebelum kemudian berpamitan untuk meninggalkannya dan berjanji akan kembali lagi secepat yang lelaki itu bisa,

“Aku pergi dulu, Yena-ya. Aku tidak akan lama. Aku akan segera kembali ke sini untuk menemanimu lagi. Jangan khawatir.”

Saat langkah Chanyeol dan sang manajer keluar melewati pintu, mereka berpapasan dengan seorang dokter senior yang selama ini paling gigih bertahan memberikan perawatan pada Yena di saat dokter lainnya sudah memilih untuk angkat tangan.

“Selamat malam, Dokter,” ucap Chanyeol, memberi salam dengan sangat sopan.

“Kalian mau ke mana?” tanya dokter yang telah memiliki banyak uban di rambutnya itu sambil membenarkan posisi letak kacamatanya yang sempat sedikit turun.

“Saya harus pergi sebentar, Dok. Kalau Dokter tidak keberatan, tolong jaga Yena untuk saya setidaknya sampai saya kembali. Saya janji tidak akan berlama-lama,” ujar Chanyeol yang tak butuh waktu lama mendapat anggukan setuju dari sang dokter.

“Terima kasih banyak, Dokter! Terima kasih banyak!” Chanyeol menjabat tangan dokter itu dengan perasaan gembira. “Kalau begitu saya permisi dulu.”

Seiring semakin menjauhnya pemuda bermarga Park itu, raut wajah sang dokter perlahan berubah sendu. Tanpa melangkah masuk dan hanya sebatas memandangi dari kaca transparan di depannya, dokter itu mulai bergumam pelan, “Berhentilah mencoba mengubah masa lalu, Byun Yena. Karena bisa saja, masa depan yang kau harapkan baik bagimu, ternyata tidak lebih baik untuk orang lain.”

“Apa Dokter juga pernah mengalami hal yang sama seperti saya?” tanya seorang pria berusia 40 tahunan yang tanpa disadari ternyata mendengar gumaman pelan sang dokter.

“Maaf, maksud anda?”

“Saya Kim Jongin, orang yang tak sengaja menabrak gadis itu,” ucap pria berkulit sawo matang tersebut, yang seketika mengundang tanya sang dokter yang kebingungan sepenuhnya.

Pria yang mengaku bernama Kim Jongin itu lalu bercerita bahwasanya ia adalah seorang kurir di sebuah perusahaan ekspedisi sejak 21 tahun silam. Ia berbagi cerita kalau ternyata ia pernah bertemu seseorang yang mirip sekali dengan gadis yang kini terbaring lemah di ruang ICU rumah sakit tersebut.

“Tidak, bukan mirip,” ucap Jongin menganulir pengakuannya. “Tapi kurasa memang dialah gadis yang kutemui 20 tahun lalu.”

“Namanya Byun Yena. Aku ingat betul paras cantik serta rambutnya yang dicepol saat itu. Tapi anehnya, kenapa di saat aku sudah bertambah tua seperti ini, dia justru tetap terlihat sama seperti terakhir kali aku melihatnya dulu?”

Dokter itu tampak memijat keningnya sendiri. Tak mau mendengar cerita itu lebih jauh, sang dokter meminta maaf untuk kembali ke ruangannya tanpa sedikitpun memberi pencerahan atas apa yang dialami Kim Jongin.

Dengan dibantu oleh beberapa perawat, dokter itu akhirnya bisa sampai ke ruangannya tanpa kurang suatu apapun. Kepalanya telah dirasa cukup pening hingga ia membutuhkan beberapa kapsul obat-obatan dari laci meja kerjanya.

“Andai saja aku bisa berkomunikasi dengan diriku sendiri di masa lalu, aku pasti sudah memaksamu untuk kembali, Nona Yena.”

Di atas meja kerja tersebut, terdapat sebuah papan nama yang terbuat dari kaca tebal. Pada papan nama tersebut terpampang jelas gelar serta jabatan yang diemban dokter senior itu hingga saat ini. Juga tak lupa tentunya, nama bertuliskan…

‘Kim Jun Myeon’, yang tak lain dan tak bukan adalah nama dari dokter yang takdirnya telah terikat sejak lama dengan seorang pasien bernama Byun Yena.

wp-1512900351254.jpg

Watch my action also on wattpad.

Iklan

12 respons untuk ‘[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s