AU/Alternate Universe, Chaptered, Drama, EXO Fanfiction, Family, Fantasy, Hurt/Comfort, PG-13, R, Romance, Sad

[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 22

ELEBEN2A

AYUSHAFIRAA Proudly Presents

.

`ELEVEN ELEVEN`

.

Sequel of

.

`BATHROOM`

.

| starring Byun Baekhyun, You as Byun Yena, Oh Sehun, Bae Irene |

| supported by Park Chanyeol, Park Seul as Yoon Bitna |

| au, complicated, drama, fantasy, romance |

| pg-17 | | chaptered (under 2k words for every chapter) |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


BATHROOM : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | [Protected] Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Final Chapter (1) | Final Chapter (2)

ELEVEN ELEVEN : Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Teaser 401020304 | 0506070809 | 10 | 11 | 1213 | 14 | 15 | 1617 | 18 | 1920 | 21 | [NOW] 22


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[ 22 ― Kencan ]

.

.

.

 

Bersama kencannya kali ini, Yena membawa serta masker pigletnya―yang seharusnya tak ia bawa di momen kencannya bersama sang ayah. Itu benda yang sangat berkaitan dengan Oh Sehun, dan jika Baekhyun tahu, Baekhyun jelas akan sangat tidak menyukai keputusannya tersebut. Berhubung Baekhyun tidak tahu tentang asal usul benda merah muda itu, jadi Yena pikir tidak masalah.

Dalam mobil hitam nan gagah milik Baekhyun, Yena asik mengamati setiap pemandangan yang mobil itu lewati. Pemandangan yang sebetulnya sangat jauh berbeda dengan apa yang pernah ia lihat menggunakan manik kecokelatannya 15 tahun silam. Waktu itu, sudah banyak bangunan-bangunan kokoh berdiri di sepanjang jalan menuju rumah sang ayah yang terpelosok, menggantikan pohon-pohon rindang nan asri yang ia lihat saat ini.

Di samping Yena, Baekhyun tampak berkendara dengan gagah pula. Kadang, Baekhyun bisa membahayakan diri mereka dengan sok-sokan memegang kemudi dengan satu tangan karena satu tangannya lagi lelaki itu gunakan untuk menggenggam tangan Yena erat-erat, seolah mencegah gadis itu kabur ke pelukan lelaki lain.

Sampai di pusat kota, netra Yena teralihkan pada pemandangan tak asing yang pernah dilihatnya di tahun 2020. Di mana di sepanjang jalan, terdapat banyak pedagang kaki lima yang menjual boneka-boneka lucu yang menarik perhatiannya.

Appa!”

Lampu lalu lintas berganti menjadi merah, seolah tak membiarkan mobil hitam milik Baekhyun untuk terus melaju ke tempat tujuan.

“Ada apa, Yena-ya?” Baekhyun berpaling menatap gadis yang barusan mengguncang tangannya.

Baru saja Yena hendak melontarkan keinginan yang sudah berada di ujung lidahnya, ia kembali teringat akan kejadian bodoh yang pernah menimpanya sewaktu kecil (*baca BATHROOM, AYUSHAFIRAA).

“Apa?” tanya Baekhyun lagi.

Yena menggeleng cepat, tak mau merusak rencana kencannya bersama sang ayah untuk kedua kalinya.

Lampu lalu lintas kembali berganti menjadi hijau, mempersilakan Baekhyun dan Yena untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju taman rekreasi terpopuler di negeri kebanggaan mereka itu.

Akhirnya, tak berapa lama setelah itu, mobil yang dikemudikan Baekhyun sampai juga di tempat tujuan. Perasaan berdebar seketika melanda batin Yena saking senangnya. Setelah kepergian Baekhyun dan Irene ke surga, mana sempat Yena merasakan kebahagiaan seperti ini dalam hidup?

Mereka membeli tiket, lalu melenggang masuk ke area outdoor sambil bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Keduanya sepakat memilih area outdoor sebagai tujuan utama untuk menikmati hangatnya mentari di bulan juli ini. Dengan mengenakan setelan kaos putih tipis tanpa lengan dipadu hotpant hitam, Yena tampak begitu enerjik dan serasi saat berjalan bersama Byun Baekhyun yang saat itu memilih mengenakan kaos hitam lengan pendek dan celana jins senada diatas lutut. Tak lupa, Yena mengenakan masker piglet yang ia bawa sedari tadi.

“Wajahmu itu cantik, kenapa harus ditutupi masker babi segala sih?” tanya Baekhyun, terheran-heran.

Yena terkekeh di balik maskernya. Agar bisa menjawab pertanyaan Baekhyun dengan sejelas-jelasnya, ia pun menurunkan masker merah muda itu ke dagu.

“Justru karena Yena cantik, Yena harus menutupi wajah Yena. Memangnya Appa mau menyaksikan sendiri berapa banyak lelaki yang akan terpesona oleh kecantikan Yena hari ini? Kalau mereka langsung jatuh cinta pada Yena bagaimana?” jelas gadis itu dengan tingkat kepercayaan diri maksimal.

Baekhyun geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan kelakuan gadis itu yang bisa saja membuatnya tak berhenti tertawa.

Keduanya mulai mencoba wahana permainan pertama yang begitu menarik perhatian karena jeritan-jeritan orang-orang yang sukses menguji adrenalin sebelum mereka. Gyro Drops, sebuah wahana yang siap menjatuhkan mereka begitu saja setelah diangkat hingga mencapai titik tertinggi. Dan… terbukti. Yena dan Baekhyun yang duduk bersebelahan tak henti-hentinya berteriak histeris, saling berpegangan tangan kuat-kuat kala mesin raksasa itu mempermainkan ritme jantung mereka. Kedua insan itu harus menjalani beberapa puluh detik paling menegangkan yang―jika boleh berhiperbola―terasa seperti setahun. Tapi meski begitu, setelah momen yang menguras suara masing-masing dari mereka itu berakhir dan mereka turun dari wahana tersebut, Yena dan Baekhyun justru mengaku ketagihan akan sensasinya.

Puas dengan Gyro Drops, mereka beralih ke wahana ekstrem lain yakni Gyro Swing. Sebuah wahana dengan tempat duduk melingkar membentuk lingkaran besar mengarah ke luar, membuat orang-orang yang menaikinya tidak duduk saling berhadapan. Wahana ini mengombang-ambingkan Yena dan Baekhyun di ketinggian yang tidak main-main, cukup untuk membuat suara mereka serak karena tak henti-hentinya berteriak untuk melampiaskan rasa takut bercampur seru.

Dan masih banyak lagi wahana yang ayah dan anak itu coba satu persatu di area outdoor, seperti Swing Tree, Comet Express, Bungee Jumping, juga tak ketinggalan Ghost House.

“Apa kau lelah?” tanya Baekhyun.

Yena mengangguk kepayahan. Lagi-lagi, wahana rumah hantu membuatnya menjerit dan tak lepas memegangi lengan Baekhyun bahkan sampai detik ini.

“Yena haus, Appa.”

Baekhyun mengusap keringat di kening Yena dengan tangannya. Tak disangka, Yena pun memberi respon dengan balas mengusap keringat di dahi Baekhyun.

Lelaki itu tersenyum cerah, lalu mengelus puncak kepala Yena lembut. “Duduklah dulu, biar aku yang belikan minumannya.”

Namun ucapan sukarela Baekhyun itu ditanggapi sebuah gelengan, tanda tak setuju. Genggaman Yena di tangannya tak mau lepas.

“Yena takut Appa tidak bisa menemukan Yena jika kita terpisah lagi,” ujar gadis itu.

Si Lelaki Byun mengangguk, mengerti. Tanpa melepas genggaman Yena, lelaki itu membawa Yena ikut bersamanya ke salah satu kafe yang ada di area tersebut untuk sejenak menikmati minuman dingin demi membasahi tenggorokan masing-masing.

“Antreannya cukup panjang, Yena-ya. Kau duduklah dulu, biar aku saja yang mengantre.”

Kali ini, Yena menuruti perintah ayahnya. Sambil menunggu Baekhyun yang baru masuk ke dalam antrean, Yena memilih duduk di salah satu deretan bangku tinggi tanpa sandaran dengan meja panjang di depannya, menghadap ke luar dinding kaca yang transparan. Dari tempat duduknya tersebut, Yena dapat melihat begitu ramainya pengunjung taman bermain hari itu. Ada pasangan muda yang berjalan santai sambil mendorong kereta bayi, ada pula remaja-remaja yang asik berlari ke sana kemari tanpa menghiraukan sorot mata pengunjung lain yang cukup terganggu akan ulah mereka.

Kalau sudah begini, Yena jadi membayangkan, bagaimana ya rasanya jika ia tumbuh di kehidupan keluarga yang normal? Mungkin saat ia kecil, ia bisa merasakan rasanya didorong dalam kereta bayi oleh Baekhyun dan Irene yang tak canggung untuk saling menggenggam satu sama lain. Setelah menginjak remaja, barulah ia bisa bebas bermain bersama Chanyeol dan teman-temannya yang lain, sama, seperti sekelompok remaja yang tadi berlarian dengan pancaran bahagia di wajah mereka tanpa harus memikirkan jadwal trainee yang sangat padat dan sedikit mengekang masa-masa remaja mereka.

Membayangkan yang terakhir membuat Yena seketika teringat akan Chanyeol. Bagaimana kabar lelaki itu di masa depan nun jauh di sana? Apa Chanyeol baik-baik saja dan bisa melanjutkan hidup tanpa dirinya?

Cih, bodoh. Memangnya ia siapa? Bisa-bisanya pertanyaan konyol itu muncul dalam benaknya ketika memikirkan Chanyeol yang jelas-jelas masih memiliki perasaan mendalam pada seorang Yoon Bitna. Pastinya saja, di masa depan, Chanyeol sudah kembali merajut tali kasih asmara bersama mantan terindahnya itu dan merahasiakannya dari mata publik. Sama, seperti yang pernah Oh Sehun dan Bae Irene lakukan sebelum-sebelum ini.

“Eh?” Yena langsung saja tersadar. Apa ia baru saja mengingat skandal percintaan paman berkaki panjangnya bersama sang ibu? Oh, Ya Tuhan! Untuk apa sih ia harus mengingat-ingatnya lagi? Paman tampan itu sudah memutuskan untuk tidak memihak pada dirinya, dan berkeras untuk tetap melanjutkan hubungannya bersama sang ibu. Kalau diingat-ingat lagi, Yena jadi ingin sekali berteriak memaki-maki Oh Sehun yang bisa dengan tega-teganya menjadikan usahanya selama ini sia-sia dan tak berharga sama sekali.

“Yena-ya, ini―”

“Apa?!” bentak Yena spontan. Gadis itu menutup mulut bermaskernya dengan kedua tangannya setelah menyadari ia baru saja terbawa emosi dan malah membentak ayahnya yang datang membawa 2 gelas plastik berisi minuman es cokelat standar.

“Ma-maafkan Yena, Appa!”

“Apa kau menungguku terlalu lama sampai marah besar?” tanya Baekhyun yang siap memaklumi jika memang gadis itu kehabisan stok kesabaran dalam menunggu. Lelaki itu duduk di samping Yena, untunglah tak banyak yang mengincar posisi tempat duduk di deretan tersebut.

“Tidak kok!” bantah Yena cepat. “Yena hanya sedang memendam kekesalan pada seseorang saja, tapi malah terlampiaskan pada orang yang salah,” lanjutnya.

“Hmm, baiklah,” respon Baekhyun singkat, tanpa bertanya lebih jauh lagi perihal alasan di balik kekesalan Yena.

“Ini kupesankan minuman yang sama denganku, es cokelat, tidak apa-apa kan?”

Yena memberi anggukan lalu tersenyum lebar sambil berkata, “Yena memang suka cokelat kok! Jadi, tidak masalah!”

Mereka memutuskan untuk sejenak beristirahat di sana. Baru menaiki beberapa wahana saja nyatanya sudah cukup menguras begitu banyak tenaga. Sambil mengamati orang-orang yang lalu-lalang jauh di hadapan mereka, mereka iseng bermain dubbing saat melihat beberapa di antara orang-orang itu terlibat percakapan seru.

“Pokoknya aku mau pulang!” ucap Yena seolah-olah memang itulah yang dilontarkan seorang gadis yang tampaknya sedang terlibat pertengkaran kecil dengan kekasihnya yang sedikit lebih tua―atau mari kita sebut saja om-om.

“Hei, Sayang! Jangan begini! Kita kan baru saja sampai! Tiketnya mau diapakan? Dibakar?” Baekhyun tertawa geli melihat reaksi om-om di seberang sana ternyata sangat cocok dengan kata-katanya barusan.

“Aku tidak peduli! Pokoknya aku ingin pulang! Se-ka-rang! Titik!”

Baru saja Baekhyun ingin kembali menimpali, mereka langsung dikejutkan dengan reaksi om-om itu yang kemudian tampak menampar gadis muda di depannya hingga jatuh tersungkur. Merasa miris dan kasihan, keduanya hanya terdiam, tak mau menjadikan situasi tersebut sebagai bahan lelucon lagi.

“Kita lupakan saja yang tadi,” kata Baekhyun sambil mengibaskan tangannya dan tertawa garing.

“Ternyata Appa orang yang baik dan menyenangkan. Kalau saja Appa lebih sering bergaul dengan dunia luar, Appa pasti tidak akan merasa sendirian. Appa pasti akan mempunyai banyak kenalan dan menemukan sahabat-sahabat terbaik yang belum pernah Appa bayangkan sebelumnya,” tutur Yena sembari bertopang dagu menatap Baekhyun.

Setelah bertutur lumayan panjang, respon yang Yena dapati dari Byun Baekhyun hanyalah berupa gelengan lemah. Terlihat sekali dari air mukanya, Baekhyun sangat tidak yakin apakah kehidupannya bisa berjalan seperti sedia kala setelah lama hidup sebagai manusia asosial.

“Apa menurutmu, seorang model papan atas mau menerima manusia sepertiku yang putus sekolah?”

Yena terdiam. Tanpa perlu dijelaskan pun, Yena sudah sangat tahu siapa yang ayahnya maksud. Ya, tentu saja Bae Irene, siapa lagi?

Rasanya aneh. Ada rasa sakit yang menghunjam batin Yena saat menyadari Baekhyun masih berharap pada gadis yang sebentar lagi akan menjadi istri orang. Rasanya sia-sia saja Yena bermain gila dengan ayahnya sendiri jika pada kenyataannya sang ayah takkan pernah bisa berpaling sedikitpun dari pesona sang ibu.

“Kenapa kau tidak berpikir untuk memantaskan dirimu terlebih dulu, Baekhyun-ssi?” nada bicara Yena mulai berubah dan Baekhyun menyadari itu.

“Maksudku, sebelum kau menginginkan seorang gadis untuk mendampingimu selama sisa hidupmu, kenapa kau tidak melanjutkan pendidikanmu dulu? Kau putus sekolah bukan karena kau tak mampu dalam hal materi, namun karena kau tak mampu secara psikis, yang membuatmu kemudian lebih nyaman untuk menyendiri ketimbang bersosialisasi.”

“Saat ini mungkin kau masih bisa hidup dengan harta peninggalan orang tuamu. Tapi, Baekhyun-ssi, harta itu ada habisnya. Jika kau tak bisa memanfaatkannya sekarang untuk belajar menguasai beberapa bidang keahlian, apa kau mau hidup terlunta-lunta di usia senjamu? Setiap wanita, tak terkecuali Irene, pasti sangat mengharapkan lelaki yang terbaik untuk menjadi teman hidup. Wanita suka dengan kekayaan, tapi jika kemudian wanita itu hanya singgah di kehidupanmu untuk menguras hartamu saja, hanya kau satu-satunya yang akan merugi, Byun Baekhyun-ssi.”

Sedetik kemudian, Yena baru tersadar bahwa perkataan yang ia lontarkan barusan begitu sembrono. Namun ajaibnya, kali ini, sifat temperamental Baekhyun tidak naik ke permukaan. Lelaki itu tidak menunjukkan kemarahan seperti saat pertengkaran mereka tempo hari karena menganggap Yena terlalu mencampuri urusan kehidupan pribadinya. Mungkin karena lelaki itu sendiri pun tahu bahwa kata-kata Yena ada benarnya juga. Ia tak mungkin bisa hidup dengan terus bergantung pada harta peninggalan orang tuanya seumur hidup.

“Maaf jika ocehanku tadi sangat tidak sopan dan menyinggung perasaanmu,” ucap Yena sedikit canggung.

Baekhyun tersenyum tipis, lalu bergeleng sambil menyeruput habis es cokelatnya sampai tak bersisa.

“Tidak apa-apa.”

wp-1512900351254.jpg

Watch my action also on wattpad.

Iklan

5 tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 22”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s