AU/Alternate Universe, Chaptered, Drama, EXO Fanfiction, Family, Fantasy, Hurt/Comfort, PG-13, R, Romance, Sad

[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 24

ELEBEN2A

AYUSHAFIRAA Proudly Presents

.

`ELEVEN ELEVEN`

.

Sequel of

.

`BATHROOM`

.

| starring Byun Baekhyun, You as Byun Yena, Oh Sehun, Bae Irene |

| supported by Park Chanyeol, Park Seul as Yoon Bitna |

| au, complicated, drama, fantasy, romance |

| pg-17 | | chaptered (under 2k words for every chapter) |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


BATHROOM : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | [Protected] Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Final Chapter (1) | Final Chapter (2)

ELEVEN ELEVEN : Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Teaser 401020304 | 0506070809 | 10 | 11 | 1213 | 14 | 15 | 1617 | 18 | 1920 | 21 | 22 | 23 | [NOW] 24


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[ 24 ― Semoga Kau Bahagia ]

.

.

.

 

Berbeda dari pemandangan ruang operasi yang terakhir kali ia lihat, Yena mengerjap-ngerjapkan matanya yang silau di dalam sebuah ruangan serba putih tanpa aktivitas para dokter ataupun perawat. Suasana sangat hening sampai-sampai indera pendengaran Yena mampu menangkap dengan jelas suara detikan jarum jam yang terus berputar memenuhi seisi ruangan.

Ia diselimuti, kepalanya dililit oleh perban. Bagian belakang kepalanya masih terasa begitu sakit, berdenyut tidak keruan.

“Aku Yena. Byun Yena adalah nama lengkapku. Byun Baekhyun dan Bae Irene adalah orang tuaku. Usiaku hampir sembilan belas tahun. Aku bersahabat dengan Park Chanyeol…” Yena terus mengoceh sendiri. Untunglah, cedera di kepalanya tak sampai membuatnya hilang ingatan atau mengalami kecacatan yang tak diinginkan. Ia masih hidup, sadar, dan baik-baik saja.

Oppa, lihat! Dia sudah sadar!”

“Benarkah?!”

Yena menoleh ke arah pintu, melihat kemunculan Sehun dan Irene yang masuk dengan langkah terburu-buru, menghampirinya yang telah duduk bersandar pada tumpukan bantal di atas ranjang.

Sehun mengembuskan napas lega. “Syukurlah, kau sudah sadar! Kami semua benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.”

Gadis bermanik cokelat itu tampak celingak-celinguk ke belakang Sehun dan Irene, memandangi daun pintu yang kemudian hanya tertutup kembali tanpa ada siapapun yang membukanya lagi.

Appa di mana, Ahjussi?”

“Dia sedang mengurus sesuatu yang penting di kantor polisi. Tapi kau tenang saja, dia bilang akan menemuimu sesegera mungkin jika urusannya itu sudah selesai,” jelas Sehun.

“Tunggu! Tunggu!” Dahi Irene mengernyit keheranan. “‘Appa’?”

“Jadi panggilan sayangmu terhadap Baekhyun itu ‘Appa’?” gadis pirang itu terus bertanya-tanya saking tak percaya. Ia sungguh baru pertama kali ini mendengar panggilan tersebut digunakan sebagai panggilan sayang kepada kekasih. Toh kalaupun dilihat dari umurnya, Irene tak pernah berpikir usia Baekhyun dan Yena akan terpaut sampai sejauh itu.

“Tunggu! Apa kau tengah hamil?!” tanya Irene dengan nada nyaring di bagian akhir, membuat Yena seketika tersedak ludahnya sendiri.

Sehun memijat keningnya yang terasa pening setelah mendengar pertanyaan-pertanyaan menyimpang yang ditujukan sang kekasih pada Yena.

“Dari mana kau dapat menyimpulkan hal itu?”

“Habisnya, Baekhyun terlihat kalap sekali saat melihat Yena terjatuh begitu keras dan tanpa pikir panjang ia langsung meninju pelakunya dengan membabi buta sampai hampir mati! Masuk akal sekali kan kalau aku menyimpulkan bahwa Baekhyun sangat ketakutan jika Yena harus sampai mengalami keguguran karena peristiwa kecelakaan yang tak diinginkan itu?”

Walaupun penjelasan calon istrinya itu tampak sedikit masuk akal, Sehun tetap bertahan pada pendiriannya bahwa ia akan menolak kesimpulan tersebut secara mentah-mentah. Lagipula, mana mungkin Oh Sehun mau mengamini kalau Byun Yena memiliki hubungan gelap bersama lelaki lain sampai seintim itu?

Eh, tunggu dulu. Kenapa juga ia harus menyebutnya hubungan gelap? Jelas sekali ia tak memiliki hubungan spesial apa-apa dengan Yena. Jadi, kalaupun Yena memang memiliki hubungan spesial dengan Byun Baekhyun, Sehun tak bisa serta merta menyebut hubungan itu sebagai hubungan gelap, bukan?

“Tidak,” jawab Sehun. Raut wajahnya hanya menunjukkan ekspresi datar, tak ada upaya menghargai pendapat Irene sama sekali. “Itu sangat tidak masuk akal.”

“Lagipula, semua pria pasti akan melakukan hal yang sama jika wanita yang mereka cintai mengalami hal serupa dengan apa yang dialami Yena hari ini,” lanjut lelaki itu tanpa menyadari perubahan mimik muka wanitanya sesekon kemudian.

“Oh, begitu, ya?” gumam Irene. Jika mendengar perkataan Sehun barusan, Irene jadi teringat kejadian di ice skating rink hari ini. Saat kejadian tak diinginkan itu menimpa Yena, Sehun langsung berusaha keras menyelamatkan gadis itu tanpa memedulikan dirinya sendiri yang harus berakhir mengalami cedera di kedua telapak kakinya.

“Kalau seandainya sesaat sebelum kejadian itu terjadi, katakanlah, aku tidak meninggalkan dia dan kami berdua yang mengalami kecelakaan, siapa yang akan kau selamatkan lebih dulu? Aku… atau dia?”

Sehun ternyata tak bisa langsung menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Irene. Butuh beberapa waktu bagi Sehun untuk terdiam, merenung jawaban apa yang harus ia berikan pada sang calon istri. Di satu sisi, Yena tampak memandang cemas ke arah sang ibu dan berharap dalam hati semoga Sehun tak memberi jawaban yang sekiranya akan membuat ibunya itu terluka dan kecewa.

Tapi harapan Yena itu harus pupus sedetik kemudian. Kendati Sehun belum menjawab apa-apa, Irene seolah sudah dapat menebak kalau Sehun lebih mencintai Yena ketimbang dirinya.

Jemari Irene mengepal kuat di kiri kanan tubuhnya. Terlihat sekali ia tengah berupaya menahan tangis sekuat tenaga. “Apa pertanyaanku sesulit itu?”

“Kau kan tinggal menjawab kalau kau akan lebih memilih untuk menyelamatkanku lebih dulu! Aku ini calon istrimu! Kenapa kau tidak bisa menjawab demikian, Oh Sehun?!” akhirnya, Irene berteriak nyaring, tak kuasa lagi membendung emosi yang sedari tadi bergolak dalam hati.

“Irene-ah!” panggil Sehun sedikit menaikkan volume suaranya. Rasa bersalah lalu menyelimuti batin lelaki itu ketika ia menyaksikan sendiri tetes air mata dari Irene yang kemudian berlari pergi ke luar ruangan.

Ahjussi kenapa diam saja?! Cepat kejar Eomma Yena!”

Baru pada saat Yena angkat suara, Sehun buru-buru mengambil langkah seribu, mengejar Irene yang entah pergi ke mana.

Takut Sehun tidak berhasil menemukan ibunya, Yena berpikir ia juga tak bisa hanya duduk berdiam diri saja di atas ranjang pesakitan itu tanpa melakukan apapun. Karena itulah, masih dengan segala kepayahan yang ia rasakan, Yena memaksakan dirinya untuk turun dari ranjang dan menyeret tiang infus bersamanya ke manapun langkah kakinya pergi mencari keberadaan Sehun dan Irene.

Untungnya, tanpa harus terlalu banyak mengeluarkan energi lagi, Yena sudah dapat bertemu kembali dengan sang paman berkaki panjang yang saat ini terlihat berjalan ke arahnya. Namun, yang membuat kening Yena berkerut tak lain adalah karena tingkah aneh Oh Sehun yang seakan-akan tak menginginkan Yena untuk melihat sesuatu di belakang tubuh tegap lelaki itu.

“Kenapa kau malah keluar dari kamarmu? Ayo cepat kita kembali,” ajak Sehun sambil terus berupaya menghalang-halangi pandangan Yena yang justru menjadi sangat penasaran sekarang.

Yena berhasil. Gadis berwajah pucat itu berhasil melihat apa yang sedari tadi Sehun coba tutup-tutupi darinya. Kalau tahu rasanya akan sebegini sakit, ia tak seharusnya memiliki rasa penasaran yang terlalu tinggi.

Di ujung koridor sana, Yena dapat melihat Irene yang menangis tersedu-sedu… dalam pelukan hangat seorang Byun Baekhyun.

“Kepala Yena sakit. Yena ingin kembali ke kamar saja, Ahjussi.”

♥♥♥

Yena tahu betul ia seharusnya tidak boleh merasakan perasaan seperti ini. Ia harusnya senang melihat kedua orang tuanya bisa menjadi sedekat tadi. Siapa tahu, karena perhatian yang diberikan Baekhyun, Irene bisa luluh dan membatalkan pernikahannya dengan lelaki lain, bukan? Tapi kenapa, di saat hal itu mungkin terjadi sekarang ini, Yena justru merasa tak rela? Yena ingin Baekhyun hanya untuk dirinya sendiri. Egois? Memang. Sepertinya sifat egois dari sang ibu berhasil menurun secara alami padanya.

“Yena-ya, kau baik-baik saja?” tanya Sehun yang menunggunya di luar toilet.

“Yena baik-baik saja kok!” sahut Yena sedikit berteriak. “Apa Appa dan Eomma―ah tidak, maksud Yena, apa Baekhyun dan Irene sudah kembali?”

“Belum.”

Gadis itu menatap mata sembapnya di cermin wastafel. Kalau ia keluar dengan penampakan seperti itu, paman dan ayahnya bisa saja khawatir berlebihan.

“Kenapa kau lama sekali di dalam?” tatapan lembut Sehun kemudian menyambut keluarnya Yena dari dalam toilet.

Gadis itu sengaja membasuh wajahnya agar orang lain termasuk Sehun tidak akan menyangka kalau dirinya baru saja menangis selama 10 menit.

“Memangnya harus Yena jelaskan, ya?” Yena berkacak pinggang, memiringkan sedikit kepalanya ke kanan agar terkesan lebih imut.

“Ya, harus,” jawab Sehun pura-pura tegas.

Yena terkekeh. Dengan dibantu Sehun, Yena kembali pada posisi istirahatnya semula, berbaring di atas ranjangnya senyaman mungkin.

“Jadi, tadi Yena pipis, selesai pipis Yena langsung bergosok gigi dan mencuci muka. Bagaimana? Sudah cukup jelas?”

Di balik tawanya yang terdengar ceria, Yena menyembunyikan rasa kecewanya dalam-dalam. Sehun bilang, setelah ayahnya menyelesaikan urusan di kantor polisi, ayahnya akan menemuinya sesegera mungkin. Tapi mana buktinya? Nihil. Sepertinya demi Irene, apapun akan Byun Baekhyun lakukan, termasuk mengingkari ucapannya sendiri.

Yena berpaling ke arah Sehun yang memaksakan tubuh tingginya untuk berbaring di atas sebuah sofa panjang berukuran kecil dalam ruang rawat itu. Sikap baik Sehun padanya hari ini seolah menunjukkan bahwa lelaki itu sudah melupakan rasa sakit hatinya. Meski saat di awal bertemu, Sehun terkesan dingin padanya, tapi lihat sekarang, lelaki itu bahkan lebih memilih untuk ada menemaninya ketimbang mencari Irene yang mungkin sudah dibawa pergi Baekhyun.

“Kenapa Ahjussi tidak pulang saja?”

“Kau berniat mengusirku, ya?”

Gadis bermarga Byun itu menggeleng cepat. “Tidak! Bukan begitu maksud Yena!”

“Kalaupun maksudmu seperti itu, aku tetap tidak akan pergi.” Sehun mengubah posisi berbaringnya, ke kiri ke kanan, berkali-kali sampai ia menemukan posisi yang paling nyaman menurutnya.

“Kenapa?”

“Aku sudah tidak punya tempat untuk pergi. Orang tuaku marah besar karena aku bersikeras ingin menikahi Irene di usia semuda ini,” ujar Sehun yang masih sempat tertawa kecil di akhir. “Tidak apa-apa kan jika aku bermalam di sini? Hitung-hitung, menghemat sisa uang yang kupunya. Hotel mahal,” candanya.

“Yena pasti akan membayar hutang-hutang Yena pada Ahjussi secepat―”

“Hei, hei!” potong Sehun seraya tertawa geli. “Harga diriku terluka, kau tahu? Memangnya kau pikir aku semiskin itu tanpa orang tuaku?”

Pintu ruang rawat Yena terbuka, memperlihatkan sosok yang Yena tunggu-tunggu kedatangannya sedari tadi.

Appa…”

Iya. Baekhyun baru datang di pukul 10 malam dengan keadaan tubuh yang basah kuyup dan nafas yang tersengal-sengal.

“Ternyata kau masih di sini. Kupikir kau sudah pulang dan meninggalkan Yena sendirian,” ucap Baekhyun pada Sehun, dingin.

“Hm? Mana mungkin aku akan melakukan itu? Aku kan bukan kau,” timpal Sehun dengan sedikit nada menyindir.

Alis Baekhyun beradu, tangannya mengepal. “Maksudmu?”

“Sudah, sudah cukup!” lerai Yena, mencegah urusan di antara kedua lelaki itu semakin berujung panjang.

Appa duduklah dulu, Yena akan ambilkan handuk.”

“Eh? Eh? Eh? Apa-apaan?! Kau belum pulih betul! Sudah jangan ke mana-mana, diam di sana!” ucap Sehun yang langsung bangkit, mengambil persediaan handuk bersih di dalam toilet.

Seperti yang Sehun perintahkan, Yena hanya berdiam diri di tempatnya berbaring dan berkedip-kedip polos karena tak tahu harus bagaimana menghadapi sikap Sehun yang seperti barusan. Haruskah ia tertawa jika Sehun bertingkah seperti itu lagi? Ataukah ia menolak saja secara halus?

“Ini handuknya!” Sehun melempar handuk yang ia bawa pada Baekhyun. “Kau bisa mengeringkan tubuhmu sendiri kan? Tidak perlu meminta bantuan Yena ataupun aku kan?”

“Iya, aku bisa sendiri,” sahut Baekhyun.

Yena tertawa, merasa terhibur dengan sikap kedua lelaki dewasa itu yang tetap saja terlihat seperti anak kecil.

“Kenapa kau tertawa?!”

Gadis itu spontan saja terdiam. Ya, bagaimana tidak? Dua lelaki di hadapannya langsung kompakan menyerangnya dengan pertanyaan yang sama begitu saja.

Tapi, siapa sangka? Bahwasanya itulah awal masing-masing dari Baekhyun dan Sehun merasa nyaman terhadap satu sama lain, itulah awal mereka tak lagi menyimpan dendam terhadap satu sama lain, dan itu pulalah yang ternyata akan menjadi titik awal di mana mereka akhirnya bisa menemukan sahabat yang dulu sama-sama mereka percayai tak pernah ada di muka bumi.

♥♥♥

“YENA-YA! YENA-YA!”

Baekhyun menggedor pintu sebuah rumah kecil di depan gang. Tanda bulat merah di layar ponselnya menunjukkan bahwa ponsel merah muda milik Yena ada di dalam rumah kecil itu.

“Baekhyun? Ada apa kau ke―”

“Katakan padaku di mana Yena?! Dia pasti ada di dalam, kan?!” tanpa menunggu Sehun untuk mempersilakannya, Baekhyun langsung melangkah masuk ke dalam rumah sempit itu, mencari-cari tempat di mana Yena mungkin bisa bersembunyi di sana.

“Kau ini apa-apaan sih?!” Sehun menahan lelaki yang sedang kalap itu, memberinya sebuah tatapan tak percaya. “Apa maksudmu ‘di mana Yena’? Bukankah dia tetap tinggal bersamamu setelah pulang dari rumah sakit?”

“Jangan berpura-pura seolah kau tidak tahu apa-apa tentang ini! Aku tahu ponsel Yena ada di sini!”

Kening lelaki yang lebih muda tampak berkerut. “Ponsel? Dari mana kau tahu ponsel Yena ada di sini?”

“Kau tidak perlu tahu itu!” bentak Baekhyun. “Satu-satunya yang perlu kau lakukan adalah memberitahuku di mana kau menyembunyikan Yena!”

“Dengar, ya. Ponsel Yena memang ada padaku. Sejak hari di mana Yena memutuskan untuk mengembalikan semua yang pernah kuberikan padanya, termasuk ponsel itu, aku tidak pernah berhubungan dengannya lagi,” jelas Sehun.

Baekhyun tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia juga tak tahu harus percaya pada aplikasi pelacaknya atau percaya pada mulut Oh Sehun. Kehilangan Yena lagi membuat dirinya benar-benar merasa hampir gila.

“Yena-ya! Kalau kau ada di sini, tolong dengarkan kata-kataku ini baik-baik!” teriak Baekhyun putus asa.

“Aku akan melanjutkan pendidikanku! Aku akan hidup dari uang hasil jerih payahku sendiri! Akan kubuktikan padamu kalau aku bisa hidup normal seperti orang lain! Dan di saat itu terjadi… aku harap kau mau berjanji untuk kembali.”

wp-1512900351254.jpg

Watch my action also on wattpad.

Iklan

3 tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 24”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s