Astro Fanfiction, AU/Alternate Universe, Drama, Fantasy, Oneshot, PG, Sad, Special

[Astro Fanfiction] MISTAKE – Ruu & AYUSHAFIRAA

PicsArt_07-09-12.00.34

A collaboration fanfic between Ruu (jeonruu) and AYUSHAFIRAA (ayushafiraa_) | Kim Yoo-jung, Cha Eunwoo | Fantasy, sad | Oneshoot

———

PG-2409w

– SECRET WISH TO YOUR LOVE, 1ST EVENT –

———

Mistake

———

Februari, 2028

 

Suara teriakan ketakutan. Suara mobil berjalan cepat dan rem berdecit. Gelap.

Eunwoo berkeringat. Matanya terpejam sedang keringat dingin membasahi tubuhnya.

“Eunwoo!!”

Panggilan membawa rasa takut itu. Tangannya berusaha menggapai, namun kakinya terasa semakin berat untuk berlari mengejar.

“Oppa!!”

Suara tangisan pilu. Wajah ketakutan. Dan terakhir suara memekakkan tangisan kehilangan.

.

.

.

.

Mata Eunwoo terbuka dengan cepat. Nafasnya tak beraturan. Ia ketiduran di meja kerjanya. Mimpi buruk kenangan masa lalunya. Pria bersurai hitam dengan balutan jas rapi itu bangkit dari duduknya setelah irisnya menatap jam dinding di kantornya.

Pukul 4 sore lewat sedikit.

          “Aku akan menjemput Eunsa dulu. Nanti aku kembali lagi.” ucap Eunwo pada sekretarisnya di luar kantor.

Ia sudah terlambat setengah jam. Dan ia yakin wajah tembam putrinya itu akan semakin membulat lantaran marah.

Mobil hyundai yang ia naiki berjalan mulus, kemudian berhenti di depan sebuah sekolah dasar tempat Eunsa sekolah. Matanya mencari-cari dimana si pipi tembam itu.

Langkah kakinya bergerak menuju taman di belakang gedung sekolah. Senyumnya merekah mendapati Eunsa berdiri di kejauhan. Namun putrinya itu nampak berbincang dengan seseorang. Menggeleng beberapa kali.

Bicara dengan siapa dia?

Eunwoo melangkah cepat. Namun baru setengah jalan untuk mendekati putrinya, seseorang dengan pakaian serba hitam dan masker menutupi wajahnya mengangkat paksa Eunsa. Sosok yang sedari tadi berbincang dengan Eunsa.

Eunwoo membelalakkan matanya terkejut. “Eunsa!” panggilnya panik. “Hei, b*ngs*t berhenti!”

          “Ayaaah!!!” Eunsa berteriak dan menangis.

Namun ia kalah cepat lantaran orang tersebut sudah melempar Eunsa ke dalam mobil dan menjalankan mobil itu pergi dengan cepat meninggalkan area sekolahan. Eunwoo berlari kesetanan hendak mengejar.

Meski ia tahu ia kalah cepat dengan mobil itu, otaknya terlalu panik untuk berpikir jernih. Jadi, tanpa sadar ia berlari ke tengah jalan raya dimana sebuah truk melaju kencang dan menabraknya.

Eunwoo terpelanting jauh bersamaan dengan sebuah pekikan samar yang terngiang dalam benaknya.

“Oppa!!”

Gelap.

“Ayaah!!”

          “Eunsa-ya!” lirih Eunwoo. Mengerjap lemah hingga akhirnya terpejam kehilangan kesadarannya diiringan darah yang mengucur deras di kepalanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

          “Permisi, hei, nak!” seseorang menepuk bahu Eunwoo. Mata Eunwoo lantas terbuka lebar dan ia mendapati seorang pria paruh baya tengah menatapnya.

Eunwoo teringat putrinya Eunsa. Lantas bangkit dari berbaringnya dan menatap panik si pria paruh baya itu. “Permisi ahjussi, apakah anda melihat mobil suv yang lewat? Warnanya hitam dan kacanya gelap.”

          “Ya?”

          “Putriku, Cha Eunsa! Dia baru saja diculik. Apakah an…”

Si pria paruh baya itu tertawa kencang. “Sepertinya kau masih bermimpi, nak. Kenapa kau tiduran disini, bukannya berangkat sekolah, huh?”

Eunwoo mengerjap bingung. Sekolah? Apa maksudnya? Ia sudah berumur 31 tahun dan sudah menjadi CEO sebuah perusahaan.

          “Tidak. Pak, aku serius.”

Pria paruh baya itu menggeleng heran. “Sudahlah akhiri saja mimpimu di siang bolong ini. Sana berangkat sekolah.” ujarnya lantas berjalan berlalu meninggalkan Eunwoo dengan segala kebingungannya. “Aigoo, anak jaman sekarang bisa-bisanya membolos sekolah.”

Eunwoo bangkit dari duduknya dan menatap sekitar. Ia kini sedang berada di sebuah taman. Terasa familiar baginya. Lantas ia mulai berjalan cepat melalui jalan-jalan yang dirasa cukup familiar juga.

Bukankah ini…

          “Hei, Cha Eunwoo!” tiba-tiba seseorang merangkul pundaknya. Eunwoo menoleh kaget, lebih kaget lagi begitu ia mengetahui siapa yang merangkulnya.

          “Kim Yoojung?!”

          “Eoh, dasar bodoh! Kau pikir siapa lagi?” Yoojung memukul kepala Eunwoo. Berjalan mendahului pemuda itu dan melangkah riang. “Ayo, berangkat sekolah! Aku bangun kesiangan tadi. Dan kau..”

Yoojung membalikkan badannya. “Kenapa kau terlambat?”

Eunwoo masih terpaku akan sosok dihadapannya. Sosok yang sangat ia rindukan dan membawa banyak penyesalan seumur hidupnya. “Yoojung-a!” pekiknya nyaris menangis dan berhambur memeluk Yoojung. Gadis itu gelagapan dan bingung akan tingkah Eunwoo.

Apa bocah ini sedang mendapat masalah?

          “Hei, Cha Eunwoo. Ada apa? Kau ada masalah?” Yoojung membiarkan Eunwoo terus memeluknta erat.

Eunwoo benar-benar memeluk erat Yoojung. Ia tak ingin kehilangan gadis ini lagi. Mungkinkah kini ia sedang berada di akhirat?

Seingatnya, terakhir kali ia tertabrak sebuah truk saat mengejar Eunsa.

Teringat Eunsa, Eunwoo melepaskan pelukannya dari Yoojung. Ia masih berpikir sekarang ia berada di akhirat lantaran ia bertemu Yoojung gadis yang meninggal 10 tahun yang lalu.

Eunwoo terduduk, berjongkok sambil menjambak rambutnya frustasi. Yoojung ikutan berjongkok menatap pemuda itu bingung. “Hei, Cha Eunwoo. Ada apa? Ceritakan saja padaku!”

          “Yoojung-a, maafkan aku.” Eunwoo menarik tangan Yoojung dan menggenggam jemari mungil itu erat. “Apa yang harus kulakukan?”

Yoojung mengerjap bingung.

          “Aku kehilanganmu dulu.. Dan kini aku tak bisa menyelamatkan Eunsa! Aku harus bagaimana?”

          “Eunsa.. Siapa dia?”

Eunwoo menghela nafas frustasi. “Eunsa. Cha Eunsa, putriku..” lirihnya nyaris menangis.

Yoojung mengerutkan keningnya. Mulutnya menekuk memasang wajah simpati. Namun sepersekon detik kemudian ekspresi itu berubah 180 derajat. Tangannya dengan keras memukul kepala Eunwoo dan memakinya.

          “Dasar sinting! Berhenti bercanda! Kau masih pelajar SMA. Kapan kau punya anak, huh?! Ayo berangkat! Kita sudah sangat terlambat.” Yoojung bangkit dan menggenggam erat ranselnya.

Eunwoo memegang kepalanya yang sakit. Apa maksudnya pelajar SMA? Bukannya ini di akhirat.

Yoojung sudah berjalan meninggalkan Eunwoo beberapa langkah di depan. Masih terduduk di tanah, Eunwoo berteriak. “Hei, Kim Yoojung! Ini dimana?”

Yoojung membalikkan badannya. “Apa kau bodoh? Ini Gwangju tolol!”

Gwangju. Gwangsan-gu, Gwangju?

Ini adalah kota kelahirannya. Pantas saja terasa familiar.

          “Tahun?”

          “Augh.. Kau itu sedang bodoh atau bagaimana sih? 2018! Jumat, 26 Januari 2018. Jelas?!” Yoojung sewot. Lantas membalikkan badannya dan kembali melangkah meninggalkan Eunwoo yang masih terduduk di tanah, terpaku akan sebuah ketidakmasuk akalan yang ia dapatkan.

Terakhir yang ia tahu ia berada di Seoul, tahun 2028. Apa maksudnya dengan sekarang tahun 2018 dan ia berada di Gwangju?

Eunwoo menoleh menatap sebuah toko dan menatap dirinya di pantulan kaca. Matanya membesar mendapati wajahnya menjadi lebih muda dari umurnya yang seharusnya 31 tahun. Ia mengenakan seragam SMA.

Kepalanya kembali menoleh menatap Yoojung yang sudah berjalan menjauh. Ini gila! Apakah ia baru saja kembali ke masa lalu?

Lantas ia bangkit dengan cepat dan berteriak, “Hei, Kim Yoojung! Tunggu aku!”

Eunwoo akhirnya meyakini bahwa kini ia kembali ke masa lalu. Terlebih ia kembali di masa paling kelam dalam hidupnya. Dimana dalam waktu beberapa hari lagi, gadis yang ia cintai, Kim Yoojung akan menghilang dan memberikan penyesalan mendalam seumur hidup pada Eunwoo.

Tepat seminggu lagi, pada hari Jumat, 2 Februari 2018, ia akan menemukan Yoojung telah tiada. Ia ingat kejadian itu dengan jelas karena di masa depan kejadian itulah yang memberikan mimpi buruk sepanjang padanya.

Sekarang tanggal 26 Januari. Seminggu lagi sebelum kejadian itu. Iris Eunwoo tak hentinya menatap Yoojung yang tengah tersenyum lebar mengobrol dengan gadis lainnya di kelas.

Ia tak menyangka akan dapat kembali ke masa lalu. Mendapat kesempatan kembali ke masa lalu, Eunwoo bertekad untuk mengubah masa lalu pahitnya kehilangan Yoojung. Kali ini ia harus menyelamatkan gadis itu.

Menyelamatkannya dari percobaan penculikan yang dahulu membuat Yoojung harus kehilangan nyawanya. Oleh karena itu, Eunwoo bertekad untuk terus berada di sisi Yoojung.

H-3 sebelum penculikan.

          “Berhenti mengikutiku! Aku bisa pulang sendiri!” Yoojung sewot. Selama beberapa hari ini Eunwoo bertingkah aneh. Padahal pacar saja bukan, kenapa pemuda itu bertingkah overprotektif padanya?

          “Kan sudah kubilang, mulai saat ini aku akan terus mengantar jemput mu. Kau mengerti?”

          “Kalau kau terus seperti itu, kapan aku bisa punya pacar karena kau terus menempel padaku?!” Yoojung sebal.

          “Kalau begitu pacaran saja denganku!”

Yoojung menghentikan langkahnya, berbalik dan untuk kesekian kalinya selama beberapa hari ini memukul kepala Eunwoo keras. “Dasar gila!”

H-2 sebelum penculikan.

Yoojung menangis sesenggukan di sudut kelas sepulang sekolah. Eunwoo tak pernah tahu bahwa dahulu di hari ini Yoojung akan menangis sendirian di kelas. Ia ingat dua hari sebelum Yoojung diculik, Eunwoo disibukkan dengan pekan olahraga yang akan diadakan minggu depan. Karena dia adalah ketua osis, oleh karena itu ia sibuk mengurusi banyak hal.

          “Ada masalah apa?” Eunwoo mengusap punggung Yoojung. Gadis itu masih sesenggukan menutup wajahnya menelungkup di meja.

Yoojung menggeleng dan mengangkat kepalanya. Mengusap air matanya lantas meraih ranselnya. “Tak apa-apa! Jangan ikuti aku. Aku ingin pulang sendirian.”

Meski Yoojung mengatakan bahwa ia tak ingin diantar pulang, Eunwoo tetap mengawasi, mengikuti gadis itu di kejauhan.

Ia harus memastikan Yoojung pulang dengan selamat.

Jumat, 2 Februari, 2018. Hari H penculikan.

Semenjak dua hari yang lalu Eunwoo mendapati Yoojung menangis di kelas sepulang sekolah, Yoojung terus terdiam sejak saat itu.

Tak banyak bicara dan selalu pulang saat kelas sudah sepi menjemput petang. Ada apa dengan Yoojung?

Eunwoo memang tak tahu alasan Yoojung menangis dan murung. Namun mengetahui hari ini adalah hari dimana dahulu ia terlambat menjemput Yoojung karena kesibukannya sehingga gadis itu diculik dan meninggal. Maka, Eunwoo dengan sabar menemani Yoojung tanpa banyak bicara.

          “Pulanglah, Eunwoo. Aku bisa pulang sendirian.” akhirnya Yoojung membuka suara.

          “Tak apa. Aku akan menemanimu disini.”

Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kelas. Guru Gil melambai menatap Eunwoo. “Oh, Eunwoo-ya! Untunglah kau belum pulang! Laporan pengeluaran untuk festivalnya, apakah sudah selesai?”

Eunwoo mengangguk. “Ya, pak. Sudah kutaruh di meja bapak.”

          “Benarkah? Tapi, tak ada apapun di mejaku, tuh?”

Eunwoo mengernyitkan dahinya. Ia melirik Yoojung sebentar. Ditinggal sebentar mungkin tidak akan terjadi apa-apa. Toh, ruang guru dekat dengan kelasnya. Sehingga jika ada orang aneh lewat ia akan mengetahuinya.

          “Yoo, aku ke ruang guru dulu.”

Setelah kepergian Eunwoo ke ruang guru, Yoojung mendapat telpon. Keningnya berkerut dan segera berlari keluar kelas meninggalkan tasnya.

Eunwoo tak melihat kepergian Yoojung karena saat itu ia sedang menunduk di bawah meja Guru Gil mengambil laporan yang jatuh di bawah meja. Maka, begitu ia kembali ke kelas dan mendapati hanya ada tas Yoojung disana, Eunwoo langsung berlari panik.

Langit sudah berwarna oranye. Sebentar lagi malam hari. Eunwoo ingat saat dulu ia menemukan kuncir rambut Yoojung di dekat gerbang sekolah saat gadis itu diculik. Ia langsung berlari keluar gedung sekolah.

Dan di gerbang ia mendapati Yoojung ditarik paksa masuk ke sebuag mobil suv hitam. Eunwoo berlari kesetanan. “Yoojung-a!!”

Yoojung menoleh. “Eunwoo!!!”

Namun teriakan Yoojung terpedam lantaran pintu mobil ditutup dengan cepat.

Eunwoo berpikir cepat. Mengingat kejadian malam itu. Saat itu Yoojung berhasil lolos dari dalam mobil penculik itu entah bagaimana caranya. Beberapa menit kemudian ia akan menemukan Yoojung di pinggir jalan raya saat itu. Dan itulah dimana Eunwoo akan mendapati Yoojung menyeberang dan tertabrak mobil. Mobil si penculik yang memang sengaja membunuh Yoojung.

Gadis itu akan meninggal dengan cara itu. Ia harus menghentikannya.

Maka, ia langsung berlari menuju jalanan dimana ia menemukan Yoojung saat itu. Nafas Eunwoo terpenggal-penggal. Ia harus tiba tepat waktu sebelum terlambat menyelamatkan Yoojung.

Dan benar saja di kejauhan ia dapat melihat Yoojung berdiri di pinggir jalan raya. Eunwoo sampai tepat waktu. Maka, ketika akhirnya Yoojung hendak berlari menyebrang jalan, Eunwoo menarik tangan Yoojung. Tepat ketika itu sebuah mobil hitam melaju kencang disertai pekikan Yoojung dalam pelukan Eunwoo.

Mereka terjatuh berdua di pinggir jalan. Anehnya, pandangan Eunwoo menjadi kabur. Suara pekikan tertangkap pendengarannya namun samar. Matanya dapat melihat samar wajah Yoojung yang menangis.

Hingga sepersekon detik kemudian, kesadarannya menghilang.

Februari 2028

Eunwoo membuka matanya cepat. Irisnya langsung mendapati ruangan yang serba putih. Indra penciumannya mendapati aroma obat-obatan di ruangan yang ia tempati.

Ini rumah sakit. Kepalanya diperban. Sejurus kemudian seorang wanita masuk. Sekretarisnya datang dan menunduk hormat.

Eunwoo menghela nafas pelan. Apakah barusan tentang Yoojung ia hanya bermimpi? Entah mengapa itu terasa nyata sekali.

          “Anda sudah sadar, pak?”

Eunwoo mengangguk lemah. “Berapa lama aku pingsan?”

          “Dua hari.”

Eunwoo mengerutkan keningnya. Jika dua hari ia pingsan, bagaimana dengan putrinya, Cha Eunsa yang diculik?

          “Bagaimana dengan putriku?!”

Sekretaris Kim mengerjap. Senyumnya menghilang.

          “Kenapa? Apa yang terjadi? Katakan padaku?!” Eunwoo berteriak marah.

          “Maafkan saya, pak.” hanya itu yang diucapkan sekretaris wanitanya.

Saat itulah Eunwoo sadar ada sesuatu yang salah. Perasaan buruk yang menjadi nyata. Sorenya ia diperbolehkan keluar dari rumah sakit.

Dan saat itu juga ia harus mengenakan jas hitam serta pita putih di lengannya. Mendatangi upacara pemakaman Eunsa. Putri semata wayangnya.

.

.

.

          “Berita terbaru hari ini. Putri dari CEO MJ Group diketahui telah diculik oleh seseorang yang belum diketahui identitasnya oleh pihak kepolisian. Di ketahui, penculik sengaja menculik Putri CEO Cha Eunwoo karena dendam pribadi. Cha Eunsa, putri dari CEO MJ Group hari ini ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Kepoli…”

Eunwoo menatap televisi yang menyiarkan berita tentang putrinya di rumah duka. Orang-orang yang datang saling berbisik mengasihani Eunwoo. Setelah istrinya yang meninggal setahun yang lalu karena kanker, kini ia kehilangan putrinya.

Tiba-tiba sekretaris Kim datang. Berbisik di telinga Eunwoo. “Pak, pelaku penculikan menyerahkan diri.”

Sontak Eunwoo langsung berdiri dari duduknya dengan sorot mata berkilat marah. Sekretaris Kim tak dapat menahannya dan membiarkan Eunwoo menaiki mobil menuju kantor polisi.

          “Dimana dia?!” teriak Eunwoo marah begitu tiba. Seorang detektif datang menenangkannya. Namun Eunwoo terlanjur marah dan masuk ke ruang investigasi.

          “Dasar b*ngs*t sialan!” teriaknya membuka pintu dengan kasar.

Seseorang dengan jaket hitam duduk membelakanginya. Eunwoo langsung menarik si pembunuh anaknya dan memegang kerah jaketnya.

Namun matanya langsung membulat lebar melihat siapa penculik anaknya itu. “Kim Yoojung?”

Yoojung tersenyum sinis melihat Eunwoo dengan segala emosinya. “Lama tak berjumpa, Eunwoo-ya!”

Eunwoo melepas kerah Yoojung. Kakinya lemas.

Tak mungkin. Bukankah Yoojung sudah meninggal? Tak mungkin kan mimpi kembali ke masa lalu itu nyata?

Apakah saat itu ia benar-benar kembali ke masa lalu dan menyelamatkan Yoojung? Jika iya, kenapa…

          “Bagaimana bisa… Kenapa kau melakukan ini terhadapku, huh?” Eunwoo berkata lirih.

          “Kenapa kau balik tanya kepadaku?” Yoojung mengepalkan tangannya yang diborgol. “Harusnya kau tahu mengapa..”

Eunwoo nyaris menangis karena kebingungan yang ia hadapi. Ada apa ini?

          “Karenamu, aku kehilangan ibuku.” desis Yoojung. Eunwoo mengerutkan kening bingung. “Harusnya, kau tak menahanku saat itu. Kenapa kau menyelamatkanku? Kenapa?!” Yoojung berteriak marah. Seorang detektif yang berada di ruangan itu menahan Yoojung yang hendak menyerang Eunwoo.

         “Karenamu! Kau harusnya membiarkanku pergi!” Yoojung menangis.

Setelah beberapa menit Eunwoo berada di dalam ruangan tersebut, akhirnya ia keluar dengan perasaan tak menentu. Ia masuk ke dalan mobil dan terdiam begitu lama.

“Harusnya kau biarkan aku menyelamatkan ibuku. Biarkan aku yang mati.”

Eunwoo tak tahu jika saat ia melihat Yoojung hendak menyebrang jalan, ia sedang ingin menyelamatkan ibunya di ujung jalan sana.

“Ibuku meninggal! Ayahku tak bisa menerimanya! Dia menjadi gila.. Hiks hiks..”

Eunwoo menelan salivanya berat. Apakah itu berarti tindakannya salah dengan mengubah masa lalu?

“Jika kau membiarkanku mati demi ibuku, setidaknya mereka masih memiliki Jaejung, adikku.”

Eunwoo mencengkeram kemudinya kuat. Mendengar segala pengakuan Yoojung, ia baru tahu alasan mengapa gadis itu menangis kala itu. Ayah dan ibunya tak peduli dengan Yoojung. Ia adalah perempuan dan adiknya adalah laki-laki. Karena itulah Jaejung diprioritaskan karena akan menjadi penerus perusahaan ayahnya kelak.

“Kenapa kau menyelamatkanku.. Kenapa?” 

Mata Eunwoo terpejam. Hidup Yoojung hancur karenanya. Ia tak lagi mendendam pada penculik Eunsa. Meski ada gejolak emosi karenanya, namun hatinya tak tahu harus bertindak bagaimana. Dirinya hanya terus terdiam di dalam mobil selama beberapa jam.

Harusnya aku tak mengubah masa lalu. Membiarkan takdir berjalan semestinya.

Apakah akan ada yang berbeda jika aku tak mengubahnya? Mungkin dengan begitu Eunsa akan selamat.

FIN.

Akhirnya kelar juga. Entah berapa jam aku mikirin harus begimana alurnya. Hei hei kamu yang request, maaf kalau ceritanya tidak sesuai ekspetasinya..

Sekedar curhat, ini versi kedua dari versi awal yang bikin aku nggak puas.

Peluk kecup dari si cantik disini..😘😘

 

 


Written by. Ruu

Plot by. AYUSHAFIRAA

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s