BTS Fanfiction, Fluff, Oneshot, PG, Romance, Special, T

[BTS Fanfiction] NICE TO MEET YOU – AYUSHAFIRAA & AudiaParas

PicsArt_07-09-10.14.32

`N​ICE TO MEET YOU`

A collaboration fanfic between AYUSHAFIRAA (@ayushafiraa_) and AudiaParas (@audiaparas) | Kim Yoojung, Kim Taehyung, Byun Baekhyun | Fluff, Romance | Oneshot

―SECRET WISH TO YOUR LOVE―

♡♡♡

Sudah sekitar setengah jam ini Yoojung menunjukkan raut bosan, malas mendengar kehebohan seorang temannya yang bercerita tentang kabar terbaru seputar Kim Taehyung―satu-satunya member boygrup papan atas yang terkenal paling sering berbuat ulah. Yang Yoojung tangkap dari ocehan temannya kali ini, Taehyung lagi-lagi kabur entah ke mana, tak menghadiri sebuah acara festival di mana ia dan boygrupnya seharusnya tampil malam kemarin. Tapi, Yoojung bukan tipikal gadis yang sefanatik itu pada dunia para idol, jadi gadis 16 tahun itu memutuskan untuk memasukan omongan panjang lebar temannya ke telinga kanan dan mengeluarkannya lagi dari telinga kiri.

Cukup!

“Sohyun-ah, aku pulang duluan, ya.” Tanpa menunggu teman sekolahnya itu mengiyakan, Yoojung langsung buru-buru meraih tasnya dan melangkah cepat keluar dari kafe.

Menyadari temannya tak mengejarnya keluar kafe, Yoojung akhirnya bisa bernapas lega. Terjebak selama 30 menit bersama Sohyun hampir saja membuatnya gila. Seharusnya 1800 detik yang berharga itu mereka gunakan untuk bekerja kelompok, tapi kenyataan malah berkata lain.

Oke, sekarang cacing-cacing diperutnya malah berdemo meminta makanan. Memang benar ia terjebak bersama Sohyun di sebuah kafe tak jauh dari sekolahnya, tapi percayalah, uang jajannya benar-benar sedang tipis-tipisnya sehingga tidak bisa memesan menu apapun di kafe tadi yang rata-rata harganya sangat mahal.

Gadis berseragam sekolah yang mencepol rambut hitam panjangnya tinggi-tinggi itu akhirnya masuk ke minimarket, hendak membeli beberapa camilan untuk mengatasi kelaparannya sementara waktu. Ya, sementara waktu saja kok, setidaknya sampai kedua orang tuanya mentransfer sejumlah uang di akhir bulan nanti. Sialnya, meski ‘sementara’, 12 hari menuju akhir bulan itu terasa sangatlah lama.

Setelah mengambil beberapa camilan kesukaannya, Yoojung berjalan ke kasir. Di sana, sudah ada seseorang yang lebih dulu bertransaksi. Kedua manik Yoojung tak lepas menatap orang berpenampilan misterius itu dari bawah ke atas lamat-lamat. Dilihat dari perawakannya yang tinggi, dadanya yang lebar dan datar, serta tonjolan di antara kedua pangkal pahanya, orang itu jelaslah seorang laki-laki. Tapi kenapa lelaki itu harus berpakaian sebegitu tertutupnya kalau hanya untuk pergi ke sebuah minimarket dan membeli sekaleng susu beruang?

Tunggu! Apa jangan-jangan… lelaki itu adalah…

“TERORIS!” teriak Yoojung spontan.

“Huh?! Siapa?! Siapa?! Di mana?! Mana terorisnya?!” tanya dua lelaki di depannya―seorang petugas kasir dan lelaki yang baru saja ia sangka teroris.

Yoojung berkedip polos lalu perlahan mengacungkan telunjuknya secara horizontal ke arah lelaki yang ia maksud. “Memangnya kau bukan teroris?”

“Huh? Aku?” lelaki bertopi hitam dan bermasker putih yang ditunjuk Yoojung itu seketika melotot. “Aku bukan teroris! Enak saja!”

“Hei, cepat! Mana kembaliannya?!”

Petugas kasir di minimarket itu tampak sedikit takut sebelum akhirnya menyerahkan uang kembalian yang diminta si pria bermasker.

Melihat terduga teroris itu kabur begitu saja dari hadapannya, Yoojung merasa tak bisa tinggal diam. Ia lantas lebih memilih meninggalkan semua camilannya di meja kasir demi mengejar lelaki tinggi itu.

“Hei! Tunggu!”

Bodoh. Jika memang lelaki itu benar teroris, mana mungkin lelaki itu mau menurut begitu saja ketika langkahnya disuruh berhenti?

“Apa lagi?! Kau masih mengira aku teroris?!” lelaki itu bertanya dengan nada membentak, membuat Yoojung hampir saja menitikkan air mata saking ketakutannya.

“Lihat wajah ini baik-baik!”

Yoojung tidak jadi menangis. Daripada menangis, Yoojung justru lebih terlihat terpana saat ini. Pipinya bersemu merah, tak tahan ketika lelaki di depannya mendekatkan wajah tampan tanpa maskernya secara tiba-tiba.

“Hafalkan wajah ini, simpan dalam otak cetekmu itu, dan buatlah laporan ke polisi jika suatu waktu aku benar-benar melempar bom ke rumahmu! Mengerti, Nona―” fokus si lelaki beralih ke dada besar Yoojung. Spontan saja gadis itu menggeplak kepala si lelaki tampan keras-keras dan menutupi dadanya sendiri dengan tangannya.

“Hei, Nona Kim! Kenapa kau malah memukulku?!” pekik lelaki itu. “Aku kan hanya berusaha melihat name tagmu!”

“Be-benarkah?” Yoojung menggaruk tengkuknya, merasa tidak enak karena telah seenaknya memukul kepala orang yang tak bersalah sama sekali. “Maaf,” sesal Yoojung kemudian.

“Ya sudahlah, untuk hari ini kau kumaafkan! Sudah sana pulang!”

Awalnya Yoojung menurut saja ketika lelaki itu menyuruhnya berjalan pulang. Namun, di detik berikutnya, gadis bermarga Kim itu merasa telah dibodohi seratus persen.

“Tuan misterius!” panggil Yoojung sedikit berteriak saat menyadari jarak antara mereka sudah sedikit jauh. Untungnya, lelaki yang ia maksud bersedia menoleh ke arahnya untuk kedua kali.

“Ada apa, Nona Kim? Jangan bilang kau tak mau berpisah denganku?”

Gadis itu menghela napasnya kasar, menyesal karena telah memberikan lelaki di depan sana kesempatan untuk bersikap lebih menyebalkan.

“Boleh aku tahu siapa namamu?” tanya si Gadis Kim.

Meski tertutup masker, Yoojung tahu lelaki itu sedang terkekeh geli di sana.

“Kau jatuh cinta padaku sejak pandangan pertama, ya?”

“Namaku K.T.H,” lanjut lelaki itu, mengeja inisial namanya dalam bahasa inggris. Sengaja. “Panggil saja aku K.”

“K?” Yoojung mengernyitkan dahi.

Lelaki yang hanya mau memberitahu inisial namanya itu mengangguk yakin. “Seperti yang kau bilang tadi, anggap saja aku ini misterius,” ujarnya diakhiri tawa puas.

***

Memori 3 tahun lalu itu melintas lagi di benak Kim Yoojung. Sedari tadi, pandangannya terpusat ke layar monitor komputer di kamarnya yang menampilkan sebuah situs berbagi video. K, K.T.H, atau yang sebenarnya memiliki nama Kim Taehyung itu tampak tak berubah sama sekali di video klip terbarunya, malahan terlihat semakin tampan sekarang. Seiring dengan kesuksesan boygrupnya, Taehyung tak lagi sering terdengar kabur-kaburan. Yoojung rasa, Taehyung kini sudah semakin dewasa dan mampu menempatkan dirinya pada posisi di mana seharusnya ia berada.

Kabur. Satu kata itu mengingatkan Yoojung lagi tentang kenangan yang ditinggalkan Taehyung di rumah kostnya. Setelah pertemuan pertama mereka di minimarket, keesokan harinya, Taehyung mencegatnya di tempat yang sama. Taehyung yang menyadari Yoojung tak seperti gadis kebanyakan yang teramat sangat menggilainya kemudian meminta untuk tinggal sementara di rumah gadis itu selama ia jenuh dengan segala aktivitas di dunia hiburan. Ya, dengan kata lain, Taehyung menjadikan rumah Yoojung sebagai tempatnya untuk kabur dan menghindar sejenak dari sorotan media.

Sayangnya, meski Yoojung sudah tak lagi tinggal di rumah kost itu, kenangan bersama Taehyung seolah terus membayang-bayanginya ke manapun ia pergi.

“Sayang, apa kau jadi ke toko buku?”

Suara berat itu berasal dari luar kamar, memaksa Yoojung untuk segera meninggalkan aktivitasnya semula dan berlari turun ke ruang utama untuk menemui sang ayah yang siap mengantarkannya ke toko buku.

Sekarang, usia Yoojung 19 tahun. Ia duduk di kelas terakhir SMA dan sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri menjelang ujian masuk universitas. Ia ingin sekali fokus pada satu hal saja yaitu belajar, tapi bayang-bayang Kim Taehyung selalu bisa menyita seluruh ruang dalam otaknya, tanpa permisi.

“Kau sudah memutuskan ingin menggapai cita-citamu yang mana?” tanya sang ayah saat dalam perjalanan menuju toko buku. “Dokter? Guru? Atau pengacara?”

“Aku ingin menjadi seorang make-up artist profesional saja, Ayah. Dokter, guru, dan pengacara rasanya sudah terlalu klise,” jawab Yoojung. Sebenarnya, alasannya tak hanya itu. Yoojung ingin pekerjaannya nanti bisa berhubungan dengan dunia hiburan juga, di mana jika beruntung, ia mungkin bisa bekerja untuk para artis atau lebih spesifiknya… bekerja untuk Kim Taehyung.

“Ayah akan selalu mendukungmu, Nak.”

Sesampainya di toko buku, Yoojung tak lagi ditemani ayahnya karena sang ayah harus lanjut bekerja. Iseng, Yoojung yang semula hanya akan membeli buku-buku latihan soal menjelang ujian akhirnya membelok ke deretan buku-buku fiksi untuk mencari lanjutan novel serial favoritnya yang katanya telah menjadi best seller.

“Ah, ini dia!”

“EH?!” gadis itu terkejut ketika menyadari buku incarannya yang hanya tinggal tersisa satu eksemplar itu ternyata sedang diincar juga oleh seorang lelaki tak berperikeperempuanan.

Tangan mereka sama-sama saling memegang ujung buku tersebut tanpa ada satupun yang berniat untuk mengalah.

“Hei! Aku yang melihatnya lebih dulu!” ucap Yoojung, memecah keheningan dalam toko itu.

“Tapi aku yang mengambilnya lebih dulu, Nona,” balas lelaki itu tak mau kalah.

“Kata siapa kau yang mengambilnya lebih dulu?! Jelas-jelas aku yang pertama kali menyentuh plastiknya!” kesal Yoojung, kian bertambah.

Lelaki yang sebenarnya terlihat begitu tampan layaknya para idol populer itu tertawa bernada mencela. “Iya, kau yang pertama kali menyentuh plastiknya karena kau pendek! Sudahlah, aku tak punya banyak waktu! Ikhlaskan saja dan cepat berikan buku ini untukku!”

“POKOKNYA TIDAK MAU!” teriak Yoojung dengan suara melengking. Terlanjur kesal, gadis itu pun menggigit tangan lelaki itu sekuat tenaga sampai-sampai si lelaki memekik keras dan melepaskan genggamannya pada buku yang sejak tadi mereka perebutkan.

“TERIMA KASIH SUDAH MENYERAHKAN BUKU INI UNTUKKU!” ledek Yoojung, diakhiri dengan dirinya yang menunjukkan wajah bodoh sambil menjulurkan lidah ke arah lelaki itu.

Setelah berhasil kabur dan membeli novel serial favoritnya tersebut, Yoojung menatap ke langit, berharap ia tidak akan pernah lagi dipertemukan dengan lelaki tak dikenalnya itu.

***

Sayang sekali, Tuhan tak mengabulkan harapan Yoojung yang satu itu. Celakanya, kini ia justru terlibat dalam sebuah skandal percintaan bersama lelaki menyebalkan yang dulu ia temui di toko buku. Namanya Byun Baekhyun, seorang idol boygrup yang tak kalah populer dari Kim Taehyung.

Yoojung sudah berhasil meraih cita-citanya sebagai make-up artist profesional di usia 22 tahun. Dan tanpa disangka, itulah awal mimpi buruk ia bisa terlibat rumor kencan bersama Baekhyun.

Lelaki itu pernah dengan seenak jidatnya berkata pada publik bahwa ia tengah mengencani seorang make-up artist berinisial K.Y.J yang sering bekerja untuk mendandani boygrup lain selain grupnya. Kontan saja, semua mata media tertuju pada Yoojung, satu-satunya gadis pemilik inisial KYJ di antara sekian banyak make-up artist ternama di Korea.

“Yoojung-ah, hari ini kau mendandani Kim Taehyung, ya!”

Yoojung tampak membeku seketika. Dengan sedikit tergagap, Yoojung bertanya pada rekan kerjanya tadi, “Bukannya Kim Taehyung memiliki make-up artist pribadi?”

“Memang iya, tapi make-up artist pribadinya sedang sakit dan kebetulan Taehyung sendirilah yang meminta didandani olehmu,” jelas rekan kerjanya tersebut. “Lima menit lagi dia sampai kok, tunggu saja!”

Tunggu? Jika boleh memilih, Yoojung lebih ingin melarikan diri saja sekarang juga. Bukannya ia tak ingin bertemu kembali dengan idol satu itu setelah sekian lama, tapi ini lebih kepada dirinya yang tak tahu harus bereaksi seperti apa ketika bertatap muka langsung dengan ‘Tuan Misterius’-nya.

“Hai, apa kabar? Senang bertemu denganmu,” ucap Yoojung untuk ke sepuluh kalinya, bermonolog di depan cermin ruang make-up seperti orang gila.

“Ya Tuhan! Aku harus bagaimana lagi?!” rutuk gadis itu yang kemudian membentur-benturkan dahinya ke atas meja rias, frustrasi.

“Kau tidak harus bagaimana-bagaimana kok.”

“Apa sekarang aku benar-benar sudah gila karena mendengar Taehyung berbicara padaku?” Yoojung bertanya pada dirinya sendiri tanpa mengangkat kepala, hingga tak menyadari bahwa lelaki itu benar-benar telah berdiri di belakangnya.

“Senang bertemu denganmu lagi, Nona Kim.”

Sapaan ringan itu seketika saja berhasil mengejutkan Yoojung sampai terjatuh dari posisinya tadi.

“Ah, iya. Senang bertemu denganmu juga, K―ah maksudku, Taehyung-ssi,” balas Yoojung, gugup setengah mati.

Kim Taehyung ternyata jauh lebih tampan dari yang pernah dilihatnya di acara-acara musik di televisi. Ah tidak, Yoojung bahkan sudah tahu itu sejak awal pertemuan mereka. Sohyun saja yang tergila-gila pada Taehyung sejak SMP pasti tak pernah merasakan seberuntung dirinya yang seolah telah terikat takdir dengan sang idol papan atas.

“Panggil saja aku sesukamu, Nona Kim. Aku tidak akan keberatan sama sekali,” ujar Taehyung lalu duduk di kursi, siap untuk dipoles oleh tangan terampil sang make-up artist profesional.

“Hati-hati, ya, Nona Kim―” Taehyung tersenyum ke arah Yoojung yang sudah bersiap dengan segala peralatan make-up dalam box-nya. “―kalau terlalu lama menatap wajahku, bisa-bisa kita berdua berakhir bulan madu,” canda lelaki itu.

Pipi Yoojung terasa panas dan pasti sudah memerah sekarang. Satu ciri khas Kim Taehyung yang tidak pernah berubah sejak dulu, yakni kata-kata manisnya yang selalu saja bisa membuat Yoojung kian jatuh pada pesonanya.

***

“Kapan kau akan berhenti mengikutiku, Byun Baekhyun-ssi?” tanya Yoojung, malas.

Lelaki Byun itu telah terbiasa sekali mengekorinya ketika pulang kerja, setiap malam, bahkan saat jadwal padat pun, lelaki itu selalu bisa menyempatkan diri untuk tetap mengekorinya.

Baekhyun menggeleng, bertingkah sok imut. “Aku tidak bisa berhenti, bagaimana dong?”

“Ya Tuhan!” Yoojung meremas rambutnya sendiri. “Sebenarnya apa salahku sampai harus mengalami hal seperti ini?”

“Salahmu adalah meninggalkan jejak berupa bekas gigitan di tangan Byun Baekhyun dan membuat lelaki itu jatuh cinta pada pandangan pertama.” Baekhyun mengubah suaranya menjadi lebih besar, bersikap seolah-olah dirinya adalah Tuhan yang menjawab pertanyaan Yoojung tadi.

Namun karena tingkah bodoh lelaki itu, Yoojung tertawa terbahak-bahak, merasa geli.

“Akhirnya aku bisa membuatmu tertawa juga,” ucap Baekhyun lega. “Jadi, aku bisa kan melamar sebagai pacar sungguhanmu? Kalau kau meminta surat lamarannya, sudah kusediakan sejak lama!”

Gadis bermarga Kim itu menggeleng, tak habis pikir. Perutnya sudah sakit karena terlalu banyak tertawa.

“Akan kupikirkan nanti saja, ya, Baekhyun-ssi!”

“Jangan lama-lama! Lelaki tampan ini tidak akan available selamanya, lho!”

***

Rupanya, Taehyung ketagihan merasakan sentuhan tangan lembut Yoojung di wajahnya. Lelaki itu bahkan bisa langsung memutuskan dengan cepat saat ditanya siapa yang akan ia ambil sebagai make-up artist pribadinya yang baru. Daripada repot-repot memilih pelamar lainnya, ia langsung saja menunjuk Yoojung tanpa perlu banyak basa-basi lagi.

“Perasaan aku tidak pernah mengirimkan lamaran ke agensimu, Taehyung-ssi,” ujar Yoojung yang jelas merasa aneh dengan situasi yang terjadi saat ini. Ia tiba-tiba menjadi make-up artist pribadi Taehyung? Yang benar saja!

Taehyung dan Yoojung kini sedang sama-sama menikmati pemandangan langit jingga di atas atap gedung agensi. Berdua saja, tanpa ada gangguan dari orang lain lagi.

“Yakin?” Taehyung mendelik sambil mengulum senyum, menahan tawa.

“Tentu saja aku yakin! Kenapa kau tidak percaya padaku?” Yoojung melirik Taehyung, sensi.

“Lalu ini apa?”

Lelaki itu memperlihatkan sebuah amplop lucu berwarna biru, dan sekon kemudian, Yoojung merasa pipinya akan terbakar sempurna setelah ini.

“Biar kubacakan apa isinya, ya!”

“Hei, K! Jangan! Ya ampun!”

“Dua puluh tiga september dua ribu lima belas, dear K garis miring KTH garis miring Kim Taehyung―”

“Berhenti kubilang!”

BRUK!

Yoojung jatuh di atas tubuh Taehyung ketika hendak merebut surat itu dari si lelaki. Iya, memang Yoojung akui, ia pernah mengirim surat tersebut ke agensi yang menaungi Taehyung sebagai seorang idol. Surat itu kurang lebih berisi keinginan seorang Kim Yoojung yang masih belia untuk menjadi seorang make-up artist pribadi Kim Taehyung. Rupanya, meski dalam surat tersebut Yoojung tak menuliskan informasi pribadi mengenai dirinya, Taehyung sudah dapat menebak dengan mudah jika Yoojung-lah yang mengirimkannya. Dan setelah bertahun-tahun berlalu, terbukti kan kalau tebakannya itu benar seratus persen?

Masih dalam posisi Yoojung yang menindih tubuhnya, lelaki itu dapat merasakan debaran jantung Yoojung yang tak normal. Mereka tampak sedikit malu untuk saling bertatap, namun untungnya situasi canggung itu tak berlangsung lama karena Taehyung akhirnya berani berkata, “Tak hanya menjadi make-up artist pribadiku. Seandainya kau menyampaikan keinginanmu untuk menjadi istriku juga dalam surat itu, dengan sangat bersedia aku akan membuatnya menjadi nyata.”

“Senang bertemu denganmu lagi, Nona Kim―ah, atau kupanggil Nyonya Kim saja ya mulai sekarang?”

Yoojung menepuk bahu Taehyung keras-keras. “Enak saja! Memangnya aku mau menolak?”

“Huh?” kening Taehyung berkerut, tak mengerti.

“Ya, iya! Memangnya aku mau menolak untuk diberi panggilan itu? Tentu saja tidak,” ucap Yoojung malu-malu. “Kau bingung ya?”

Taehyung mengangguk, mengiyakan bahwa dirinya memang benar-benar bingung sekarang.

Yoojung bangkit dari posisinya, berlama-lama ada di posisi menindih Taehyung tidak enak juga rasanya. Gadis itu kemudian mengeluarkan ponsel, mencari sebuah kontak bernama ‘Baekhyun Menyebalkan’, dan menghubunginya.

Halo, Nona Vampir!” suara Baekhyun yang menyapanya setelah panggilan itu terhubung bisa terdengar juga oleh Taehyung karena Yoojung mengaktifkan mode loudspeaker pada panggilan tersebut.

“Aku sudah menemukan jawabannya, Byun Baekhyun-ssi,” ucap Yoojung berseri-seri.

Jadi? Kau mau kan jadi pacarku?

“Aku mau jadi istri Taehyung saja. Itu cita-citaku sejak dulu yang tak pernah kutulis dalam biodata manapun. Jadi, maaf ya!”

Hei! Yoojung-ssi! Nona Vamp―

Sambungan telepon itu dimatikan oleh telunjuk Taehyung.

Dengan matahari tenggelam sebagai saksi, rasa cinta yang sempat tertunda itu kembali bersemi. Ah, tidak juga. Mana ada cinta yang tertunda? Rasa cinta antara Taehyung dan Yoojung selalu ada sejak hari itu, sejak hari di mana mereka bertemu dan berpisah, sampai hari di mana mereka kembali dipertemukan. Dan bahkan, sampai kapanpun itu, mereka akan tetap berada dalam situasi saling mencintai, satu sama lain.

Fin.

 

 

 

Dear yang lama banget nungguin requestannya jadi, maafin banget yaaa baru bisa selesai sekarang :””” mana mepet banget deadline ini mah wkwkwkwk XD jadi sesungguhnya aku baru mulai ngetik jam setengah 6 menjelang magrib lalu kemudian aku sempet bingung dengan gimana caranya mempertemukan KTH dan KYJ :””””” maaf banget nih kalau gak sesuai sama ekspektasi, kejauhan OOCnya, aneh, dan kalau ada typo-typo maafin soalnya aku gak baca ulang, takut keburu ganti hari huhuhu :”””(

Udah ah, gak mau lama-lama. Ntar aja ya aku ngerapiinnya :(( Sekian dan terima kasih :”””))

 

 


Written by. AYUSHAFIRAA

Plot by. AudiaParas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s