AU/Alternate Universe, Chaptered, Drama, EXO Fanfiction, Family, Fantasy, Hurt/Comfort, PG-13, R, Romance, Sad

[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 27

ELEBEN2A

AYUSHAFIRAA Proudly Presents

.

`ELEVEN ELEVEN`

.

Sequel of

.

`BATHROOM`

.

| starring Byun Baekhyun, You as Byun Yena, Oh Sehun, Bae Irene |

| supported by Park Chanyeol, Park Seul as Yoon Bitna |

| au, complicated, drama, fantasy, romance |

| pg-17 | | chaptered (under 2k words for every chapter) |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


BATHROOM : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | [Protected] Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Final Chapter (1) | Final Chapter (2)

ELEVEN ELEVEN : Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Teaser 401020304 | 0506070809 | 10 | 11 | 1213 | 14 | 15 | 1617 | 18 | 1920 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | [NOW] 27


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[ 27 ― Kepastian ]

.

.

.

 

“Seseorang itu… Yena, Nuna.”

Irene memaksakan tawanya yang muncul sepersekian detik kemudian. Sambil mengusap rambut pirangnya, Irene tampak menatap Baekhyun tak percaya.

“Hei! Apa kau bisa secepat itu jatuh cinta pada gadis lain? Sebelumnya kan kau seperti menunjukkan kalau kau cinta mati padaku,” ucapnya, sedikit kesal.

“Maaf?” manik Baekhyun mengerjap polos, tak mengerti akan reaksi si gadis pirang di hadapannya.

“Sebagai penggemar beratku, harusnya kau tahu kalau aku paling tidak suka tersaingi oleh siapapun.”

“Kenapa Nuna harus merasa tersaingi oleh Yena?” tanya Baekhyun, mencoba mengorek lebih dalam tentang perasaan Irene.

Berniat melampiaskan kekesalan, gadis cantik itu justru berakhir merobek-robek buku yang tadi hendak dibacanya. Meski tahu ia akan mendapat denda karena tindakan konyolnya, Irene benar-benar tidak memedulikan itu untuk sekarang.

“Memangnya aku ini kurang cantik ya jika dibandingkan dengan Yena? Kenapa rasanya semua orang di sekelilingku hanya berpihak pada gadis itu? Bahkan calon suamiku saja bisa-bisanya menjadikan gadis itu simpanannya dan lebih mengutamakan gadis itu daripada aku!” Irene hampir saja mengeraskan volume suaranya, namun kesadaran akan keberadaan dirinya di sebuah perpustakaan lebih dulu mencegahnya melakukan hal yang hanya akan mempermalukan dirinya sendiri itu.

Tunggu! Simpanan?

Baekhyun mengerutkan kening, curahan hati Irene barusan cukup untuk membuat batinnya terkejut. 2 bulan lalu memang Irene pernah menangis dalam pelukannya, berkata bahwa Oh Sehun adalah seorang pria brengsek yang jahat dan tak punya hati. Setelah itu, Baekhyun mendapati Sehun masih berada di ruang rawat Yena meski Irene telah ia antar pulang. Oh iya, satu lagi yang tak mungkin Baekhyun lupakan; hari di mana hampir semua media heboh memberitakan kabar kencan Sehun dengan wanita lain, yang jelas sekali di mata Baekhyun, wanita lain itu tak lain tak bukan adalah Yena.

Tapi, bukankah sewaktu Baekhyun kalang kabut mencari keberadaan Yena, Sehun bilang ia sudah tak berhubungan lagi dengan gadis itu?

Lantas, siapa yang berani berbohong di sini? Kakaknya atau Oh Sehun?

“Sejak kapan Yena menjadi simpanan Sehun, Nuna?”

“Aku tidak tahu! Dan tidak mau tahu juga! Memikirkannya saja sudah sangat menyakitiku!” Irene mengipas-ngipas wajahnya yang mulai berkeringat saking emosi.

“Baekhyun-ssi…” panggil si Gadis Bae. Ia memainkan telunjuknya di atas meja, membuat pola lingkaran berulang-ulang. Setahu Baekhyun, jika Joohyun sudah seperti itu, berarti Joohyun sedang menahan gugup.

“Datanglah ke pesta ulang tahunku besok lusa. Ini undangan pribadi yang mungkin takkan kau dapatkan dua kali dalam hidup, lho! Jadi, jangan disia-siakan ya!”

♥♥♥

“Sampai kapan kau mau terus hidup membangkang, Oh Sehun?”

Langkah panjang lelaki yang telah bersiap menjemput Yena itu harus terhenti sesaat. Keputusannya untuk pulang ke rumah lebih dulu tampaknya sedikit keliru. Waktu yang ia miliki sekarang tak cukup banyak untuk meladeni ‘petuah’ panjang lebar ayahnya.

Sehun berbalik, menghadap sang ayah yang berdiri tegap penuh wibawa di hadapannya.

“Aku tidak pernah bermaksud seperti itu, Abeoji.” Lelaki itu menundukan pandangan, berusaha menjaga sikap.

“Apanya yang ‘tidak bermaksud’?” tanya pria paruh baya tersebut, menyudutkan putranya sendiri. “Kau selalu mengambil keputusan seenaknya. Lalu apa keputusan yang kau ambil tanpa pikir panjang itu selalu benar? Tidak. Tak ada satupun dari keputusanmu yang sesuai dengan pandangan kami. Menikah di usia 21 tahun? Yang benar saja!”

Sehun menghela napas panjang. Tentu saja, orang tuanya selalu menganggap bahwa merekalah yang paling benar. Mungkin karena itu juga, sifat mereka menurun pada anak mereka sendiri dan menghasilkan Sehun yang seperti ini.

“Maafkan aku, Abeoji,” ucap Sehun. Setelah mengumpulkan keberanian, ia melanjutkan, “Tapi aku sudah dewasa. Aku tidak ingin terus menjadi boneka kalian. Aku ingin menjalani kehidupan yang aku sukai, bukan kehidupan yang hanya Abeoji dan Eomma sukai. Ini hidupku, aku yang menjalaninya. Sudah cukup aku menghabiskan 19 tahun hidupku untuk menjadi yang terbaik di mata kalian. Untuk sisa hidupku ke depannya, tolong biarkan aku yang menentukannya sendiri.”

Tangan besar ayahnya sudah terangkat di udara sebagai ancang-ancang, siap menampar wajah Sehun sekuat tenaga. Namun tangan besar itu tak pernah sampai mendarat di wajah tampan sang putra semata wayang. Tuan Oh Jonghun masih memiliki ketidaktegaan untuk melakukannya.

“Ada apa ini?”

Nyonya Oh Seyoon baru saja pulang dari aktivitas kesehariannya. Bukannya disambut dengan senyum kehangatan, wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu disambut dengan suasana tegang antara suami dan sang putra.

“Aku tidak punya waktu lagi, Abeoji, Eomma. Aku harus pergi,” pamit Sehun. Baru mengambil beberapa langkah, langkahnya terhenti lagi karena harus menjawab pertanyaan ibundanya.

“Kau mau berkencan dengan calon istrimu?”

“Iya.”

Sehun tak sepenuhnya berbohong. Siapapun, termasuk Yena, bisa saja menjadi calon istrinya, bukan?

Lelaki itu berlalu meninggalkan kedua orang tuanya setelah menyambar mantel hitam di tiang gantungan dekat pintu. Ia langsung mengemudikan mobilnya ke rumah sewa Yena tanpa banyak membuang waktu lagi.

Di depan rumah kecilnya, Yena sudah menunggu Sehun begitu lama. Gadis itu tampak sangat anggun mengenakan gaun merah di atas lutut dengan tatanan rambut yang pinggirnya terkepang rapi menyatu di tengah sisa rambut hitam panjangnya yang terurai. Wajah cantiknya pun tak lupa diberi sedikit polesan make-up dengan lipstik sewarna baju.

Mobil Sehun berhenti tepat di depan Yena yang langsung berpura-pura menunjukkan raut kesal.

“Ayo, masuk!” titah si empunya mobil dari dalam.

Yena bergeming, enggan menatap lelaki yang menjemputnya.

Sehun yang mengerti situasi dan kondisi akhirnya keluar dari mobilnya, menghampiri sang gadis.

“Hei, kenapa tidak pakai baju hangat?” tanpa perlu menunggu jawaban, Sehun melepas mantel yang ia kenakan dan memakaikannya pada gadis itu.

Masih tak mendapat jawaban juga, Sehun menyandarkan tubuhnya pada badan mobil, menatap si gadis tanpa berkedip.

“Kenapa melihat Yena seperti itu?” tanya Yena dengan bibir manyun.

“Salah sendiri, kenapa kau selalu cantik?”

Pipi Yena merona seketika. Ia tersipu malu sampai tak tahu harus bereaksi seperti apa.

“Bukannya minta maaf malah menggombal,” cibir gadis itu, tangannya menepuk bahu Sehun, sebal.

Sehun tertawa menang, sukses membuat sang gadis berhenti bungkam.

“Iya, iya! Maafkan aku, ya, Nona Byun Yena?”

Yena mengulum senyum, tanpa berkata-kata lagi gadis itu langsung memilih masuk ke dalam mobil dan duduk manis di kursi penumpang.

“Yak! Kita tidak jadi pergi, huh?!”

“‘Yak’?” pandangan Sehun menyorot tajam ke arah Yena yang langsung membekap mulutnya sendiri. “Sejak kapan kau belajar tidak sopan, huh? Awas kau ya!” ancam Sehun disertai gerak tangannya yang mengacak-acak poni tipis Byun Yena.

“Aku tahu kau ada di sana… tapi kenapa aku bisa dengan bodohnya lebih memercayai kata-kata bajingan itu?” gumam seorang lelaki berkacamata. Rahangnya menegang juga tangannya meremas setir kuat-kuat. Sedari tadi, tanpa Sehun dan Yena sadari, sebuah mobil terparkir tak jauh dari posisi mereka. Seseorang di dalamnya terus mengamati setiap gerak-gerik mereka dengan hati yang luar biasa hancur, merasa terkhianati langsung oleh keduanya.

Lelaki berkacamata itu tak lain dan tak bukan ialah Byun Baekhyun, tentu saja.

Baekhyun pikir, sejak malam di rumah sakit itu, ia dan Oh Sehun bisa bersahabat dengan baik. Tapi, sahabat baik seperti apa yang tega memisahkan sahabatnya yang tengah jatuh cinta setengah gila pada seorang wanita, demi keuntungan dirinya sendiri? Bajingan, brengsek, keparat, dan segala umpatan kasar lainnya rasanya lebih cocok untuk mengganti panggilan Oh Sehun saat ini.

“Tidurlah bersamaku malam ini, Baekhyun-ssi.”

“Apa?”

“Kau tahu kalau aku mencintaimu, ‘kan? Tidakkah kau mencintaiku juga?”

Baekhyun mendecih, setetes air mata berhasil lolos, jatuh membasahi pipinya. Hanya membayangkan bagaimana Yena memohon untuk dijamahi olehnya saja sudah membuatnya cukup merasa jijik sekarang. Apa gadis itu juga memohon pada Oh Sehun agar Oh Sehun mau menidurinya?

“Cinta? Apa yang pelacur itu maksud dengan cinta?”

Baekhyun menginjak pedal gas, melaju dengan kecepatan maksimum demi mengejar mobil Sehun dan Yena yang telah berlalu lebih dulu―membuntuti kedua insan itu dari belakang.

♥♥♥

Malam yang indah ini Sehun habiskan untuk mengajak Yena makan malam di sebuah restoran mewah ternama di pusat kota. Sebuah meja dan beberapa hidangan andalan telah sengaja Sehun pesan dari jauh-jauh hari lewat perantara Manajer Hyung. Ini bukanlah hari ulang tahunnya, bukan juga hari ulang tahun Yena. Sehun hanya merasa setiap hari yang ia lalui bersama Yena sangatlah spesial, dan memang harus selalu begitu. Dan ini, merupakan salah satu cara Sehun mengistimewakan harinya bersama gadis cantik satu itu.

“Bergayalah, biar kufoto!” Sehun mengambil beberapa potret Yena dengan kamera ponselnya.

“Bagaimana? Bagus?” tanya Yena.

“Kau cantik,” jawab Sehun tanpa banyak basa-basi.

Saat serius mengamati foto Yena, jari Sehun tak sengaja menggeser layar hingga layar yang tadinya menampilkan foto Yena kemudian berganti menampilkan foto sosok gadis cantik lain, Bae Irene.

Melihat foto Irene di saat-saat ia sedang berdua bersama Yena seperti sekarang ini membuat Sehun merasa seperti dipukul keras-keras. Hubungan ia dan Yena tak pernah berjalan sejelas hubungannya bersama Irene sejak awal. Semuanya abu-abu, tanpa kepastian. Anehnya, meski abu-abu, Sehun justru menyukai hubungannya bersama Yena daripada hubungan jelasnya bersama Bae Irene yang sebentar lagi akan melangkah ke jenjang lebih serius―dengan catatan, jika Sehun tidak membatalkannya.

“Yena-ya…”

“Hm?”

Sehun terdiam, memilih berpikir ulang sebelum bertanya hal-hal sensitif mengenai kejelasan hubungan mereka. Yang Sehun dapat simpulkan, menanyakan hal itu sekarang hanya akan merusak suasana. Jadi, lelaki berkulit putih susu itu lebih memilih untuk menelan kembali pertanyaan yang tadinya sudah ada di ujung lidahnya, bulat-bulat.

“Apa?” tanya Yena lagi.

Sehun menggeleng seraya memberikan cengiran khas. “Tidak jadi.”

“Haruskah aku mengantarmu pulang sekarang, Nona Byun Yena?” lanjut Sehun, bertanya, setelah mengelap bibirnya dengan sehelai tisu.

Yena mengangguk, setuju. “Karena perut Yena sudah kenyang, ayo kita pulang!”

Kedua insan itu tampak berjalan keluar dari restoran sambil bergandengan tangan tanpa ada rasa takut jika mungkin besok pagi akan ada beberapa media yang menerbitkan kabar gosip tentang terungkapnya ‘perselingkuhan’ mereka.

Sayangnya, bukan media yang mengikuti mereka. Ada seseorang yang jauh lebih berbahaya, yang siap mengintai dengan mata elangnya ke manapun mereka pergi lebih-lebih dari seorang paparazi andal. Ya, Byun Baekhyun yang sedang tersulut emosi nyatanya memang jauh lebih berbahaya ketimbang kau membangunkan singa yang tengah tertidur.

Parahnya lagi, baik Yena maupun Sehun, tak ada satupun dari keduanya yang menyadari bahwa mereka sedang diikuti dari belakang. Tak ada satupun dari mereka yang menyadari bahwa seorang Byun Baekhyun selalu ada di dekat mereka sejak awal, melayangkan tatapan penuh kebencian yang begitu menyeramkan dan tak pernah terbayangkan oleh mereka sebelumnya.

“Terima kasih sudah menemaniku makan malam, Yena-ya,” ucap Sehun sesampainya mereka di depan rumah sewa gadis itu. Sehun mengantar Yena sampai gadis cantik itu masuk ke dalam rumahnya dengan selamat.

“Ya sudah, hati-hati di jalan, ya, Ahjussi.” Yena menggerakkan tangannya, melambai kecil.

Sehun menghilang di balik pintu yang Yena tutup. Baru beberapa langkah meninggalkan pintu, suara ketukan terdengar.

Sehun masih berdiri di depan pintu dan menunjukkan barisan giginya yang rapi. “Selamat tidur, Nona Byun Yena.”

“Iya, iya! Terima kasih, Ahjussi! Sudah sana pulang!” ucap Yena diiringi kekehan kecil, setengah mengusir.

Gadis itu menutup pintunya lagi, namun suara ketukan itu terdengar kembali.

“Mimpikan aku, ya!”

Kali ini Yena menghela napas panjang dan membiarkan Sehun lari terbirit-birit ke dalam mobil. Setelah memastikan mobil Sehun enyah dari pandangannya, Yena mengunci pintu.

Di ruangan sempit itu, kamar, ruang tamu, ruang makan, semuanya menjadi satu sedangkan kamar mandi dibuat terpisah di luar. Untuk tidur, Yena hanya mengandalkan kasur lantai pemberian Sehun, karena Sehun sendiri cukup sadar sebuah ranjang besar dan nyaman hanya akan semakin mempersempit ruang gerak gadis itu.

Saat Yena hendak berganti pakaian, suara ketukan yang sama kembali menginterupsi aktivitasnya. Tanpa berpikir apa-apa lagi, gadis itu langsung melangkah kesal ke arah pintu dan siap melontarkan ujaran kekesalannya jika ia kembali menemukan Sehun berdiri di sana dengan wajah menyebalkan.

“Ada apa lagi, Ah―”

Yena tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya karena sosok di balik pintu itu ternyata bukanlah seorang Oh Sehun.

“Cukup terkejut melihat kedatanganku?”

Selangkah demi selangkah, Baekhyun mendekati Yena yang justru melangkah mundur, menjauhinya. Wajah penuh keputusasaan lelaki itu sudah cukup untuk membuat Yena bergemetar hebat, ketakutan.

“BERHENTI BERPURA-PURA TERKEJUT PADAHAL KAU JELAS TAHU WAJAH PUTUS ASA INILAH YANG SELALU DATANG KE TEMPAT INI! MENCARI-CARI KEBERADAANMU SELAMA 2 BULAN, BERHARAP KAU MAU MEMBUKAKAN PINTU BARANG SEDETIK SAJA UNTUKKU!” teriakan Baekhyun seketika saja membuat kaki Yena melemas dan hampir merosot, namun tangan kasar lelaki itu kemudian mendorong Yena sampai tersudutkan ke tembok, memaksa Yena untuk tetap berdiri menghadap ke arahnya.

“APA KAU MENINGGALKANKU KARENA BAJINGAN ITU?! APA KARENA SI BRENGSEK ITU MAMPU MEMBAYARMU LEBIH DARI APA YANG SELAMA INI TELAH KUBERIKAN?! IYA?!”

Slit!

Sebuah pisau lipat dalam genggaman Baekhyun terbuka dan permukaannya yang dingin menempel tepat di leher Yena dalam hitungan sepersekian detik kemudian.

“Maafkan Yena, Appa…” lirih gadis itu, berlinang air mata.

wp-1512900351254.jpg

Watch my action also on wattpad.

Iklan

3 tanggapan untuk “[EXO Fanfiction] ELEVEN ELEVEN – 27”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s